Tapuk Kampung Pebisnis Arang di HST

Arang Halaban Tapuk Diminati Dunia, Hasil Produksinya Dikirim ke Jepang hingga Jordania

Arang halaban produksi perajin di Desa Tapuk, Kecamatan Limpasu, Hulu Sungai Tengah sangat diminati pasar dunia.

Arang Halaban Tapuk Diminati Dunia, Hasil Produksinya Dikirim ke Jepang hingga Jordania
banjamasinpost.co.id/hanani
Seorang perajin pembuat arang halaban di Desa Tapuk Kecamatan Limpasu HST dengan tumpukan arang yang siap dikirim. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Arang halaban produksi perajin di Desa Tapuk, Kecamatan Limpasu, Hulu Sungai Tengah sangat diminati pasar dunia. Untuk melayani pembeli arang kayu dari luar negeri itu, para perajin berupaya menjaga kualitas.  

Sebelum dikemas dalam karung, terlebih dahulu menyortirnya, memisahkan untuk ekspor dan dipasarkan untuk lokal.

M Noor (38), perajin lainnya adalah perajin yang memproduksi arang dengan skala cukup besar. Seperti halnya Syaripudin dia mengirim 20 ton arang per minggu. Perusahan yang bekerjasama dengan dia adalah dari Pelaihari.

Menurutnya, perusahaan itu adalah eksportir langsung, yang memasok arang halaban produksi Tapuk ke negara-negara Asia dan Timur Tengah.

Baca: Nike Ardilla Disebut Jadi Anak Angkat Guru Sekumpul, Nike Dikabarkan Sering Lakukan Ini

Baca: Sempat Terpuruk, Bisnis Dunia Hitam di Kampung Tapuk HST Kini Jadi Sumber Pendapatan Utama

Baca: Jadwal Siaran Langsung Gojek Liga 1 2018 Hari Ini di Indosiar: Bhayangkara FC vs Persija Para Juara!

Negara Asia seperti Jepang, Singapura, dan Korea, Malaysia. Sedangkan negara Timur Tengah, ke Arab Saudi dan Jordania. “Seperti arang-arang yang sudah kami kemas ini dalam karung 20 kilogram, karungnya diberi keterangan Bahasa Arab. Karung ini disediakan pihak perusahaan,”jelasnya.

Awalnya, M Noor hanya memproduksi dengan skala kecil. Namun, sebuah perusahaan yang menggandengnya sebagai pemasok tersebut,  menawarkan dia modal untuk produksi. Syaratnya, hasil produksinya tak boleh dijual ke pihak lain. Agar bisa memenuhi permintaan perusahaan itu, diapun menggandeng perajin lain untuk bermitra.

Seorang perajin pembuat arang halaban di Desa Tapuk Kecamatan Limpasu HST mengarungi arang yang siap dikirim.
Seorang perajin pembuat arang halaban di Desa Tapuk Kecamatan Limpasu HST mengarungi arang yang siap dikirim. (banjamasinpost.co.id/hanani)

Untukmenjalankan usaha arang, M Noor merekrut tujuh orang pekerja, yang membantunya dalam proses pembakaran, hingga proses pengemasan. Untuk menghasilkan arang yang berkualitas ekspor itu, M Noor dan para pekerja kadang harus begadang, memantau proses pembakaran.

Baca: Sebagian Perajin Arang Halaban di Tapuk Tak Mampu Bangkit, Akibat Terkendala Permodalan

Baca: Kembali Booming, Tiap Minggu Pebisnis Dunia Hitam Memproduksi Puluhan Ton Arang Halaban

“Soalnya, jika dalam tungku ada bocor, kena angin, bisa-bisa semua kayu yang diharapkan jadi arang, malah jadi abu. Ancaman lainya, jika turun hujan dan ada lobang di tungku yang membuat air merembes. Hal itu membuat proses pembakaran tak sempurna. Bagaimana mengenali arang berkualitas?  M Noor menyebutkan, antara lain, arang berwarna hitam, dan kalau dinyalakan berwarna kebiruan.

Selain itu, tidak menotori tangan saat dipegang, terlihat mengkilap saat dipecah, tidak berasap, berbau dan memercik, tidak cepat habis jika dibakar serta berbunyi mendenting seperti logam ketika dipukul. (banjarmasinpost.co.id/hanani)   

Penulis: Hanani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help