Kita adalah Kata

Kekasaran sejenis itu sebenarnya sudah cukup lama tersebar di ruang publik, khususnya di media sosial.

Kita adalah Kata
bpost
Mujiburrahman 

OLEH: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Minggu lalu, banyak orang tersentak dan marah akibat ucapan seorang anggota DPR RI yang menyebut Kementerian Agama ‘ban**at’. Kata ini ditambahkannya lagi dengan kata ‘semuanya’ yang berarti sapu bersih, tanpa pilah-pilih. Suatu kekasaran yang lengkap!

Kekasaran sejenis itu sebenarnya sudah cukup lama tersebar di ruang publik, khususnya di media sosial. Perhatikan saja perbantahan netizen di facebook dan WhatsApp. Biasanya adu-kata itu dimulai dengan sindir-menyindir, lalu meningkat menjadi hujatan dan ujaran kebencian. Debat kusir itu makin menjadi-jadi jika yang dibahas adalah soal paham keagamaan dan/atau dukungan politik yang berlawanan.

Mungkin inilah ongkos yang harus kita bayar untuk kebebasan. Seperti kata Nurcholish Madjid, jika dulu di era perjuangan kemerdekaan orang berseru, “Sekali merdeka, tetap merdeka!”, maka di era demokrasi ini, yang terjadi adalah “Sekali merdeka, merdeka sekali”. Seolah bebas tanpa batas, orang pun berbicara dengan bahasa seenaknya tanpa menimbang kesantunan sehingga kebebasan itu menjadi kebablasan.

Padahal, kata-kata mencerminkan siapa diri kita. Menurut filosof terkenal, Muhammad Iqbal, kata-kata, pikiran dan perasaan, adalah satu kesatuan yang utuh. Tidak ada pikiran yang benar-benar murni dari perasaan, dan tidak pula sebaliknya. Untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan itu, kita menggunakan kata-kata. Bahkan saat diam pun, ketika berpikir dan merasa, kita juga menggunakan kata-kata di hati.

Namun, kata-kata adalah sarana, bukan isi. Buya Hamka mengatakan, kata-kata yang lahir dari hati, akan diterima hati pula. Kata-kata indah tetapi pura-pura, tidak akan berkesan lama. Kata-kata biasa yang tak berbunga-bunga, tetapi diungkapkan dengan tulus, akan membekas di hati. Begitu pula, kata-kata kasar yang betul-betul lahir dari amarah dan keangkuhan, akan benar-benar melukai hati manusia.

Jika asal mula kata-kata adalah pikiran dan perasaan, maka yang perlu ditata terlebih dahulu adalah pikiran dan perasaan itu. Amarah menggebu dan buruk sangka akan mudah memicu kata-kata kasar. Biasanya, amarah menjadi tidak terkendali ketika orang tidak mau lagi berusaha memahami orang lain. Begitu pula, buruk sangka makin membungkah ketika orang tidak mau melakukan klarifikasi (tabayyun).

Karena banyak hal yang tidak kita ketahui dan pahami dalam diri orang lain, maka agama dan budaya mengajarkan agar orang berhati-hati dalam berkata-kata. Nabi SAW bersabda,”Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” Dalam bahasa Indonesia ada pula ungkapan: “Mulutmu adalah harimaumu”. Artinya bicaramu bisa membuatmu celaka.

Sainul Hermawan pernah memaparkan delapan peribahasa Banjar tentang etika berbicara (BPost 30-1-2016). Salah satunya ialah banganga dahulu, hanyar baucap (menganga dulu, baru bicara). Maksudnya, berpikir dulu, baru mengeluarkan kata-kata. Ada lagi, galugur-galugur guntur, hujannya kada (guntur terus menggelegar, tetapi hujan tidak ada). Artinya, hanya pandai bicara, tetapi buktinya tidak ada.

Tentu masih banyak lagi pepatah, peribahasa dan nasihat bijak mengenai etika menjaga kata-kata dalam berbagai agama dan budaya. Nilai etika itu kiranya termasuk nilai perenial, kearifan abadi yang berlaku sepanjang masa. Adab berbicara itu berlaku kapan saja, di zaman kuno atau zaman now. Ia juga berlaku untuk siapa saja, orang biasa atau pejabat negara, yang dihormati ataupun yang merasa terhormat.

Alhasil, kata-kata, lisan atau tulisan, tidak boleh dianggap remeh. Kita berpikir dan merasa melalui kata-kata. Kita dapat membangun atau menghancurkan hidup kita dengan kata-kata. Kita perlu ingat, Tuhan pun menciptakan alam semesta dengan satu kata: ‘kun’ (jadilah!). (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved