Opini

Jukung Bungas Branding Baru Banjarmasin : Contoh Collaborative Destination Development

Pasar terapung sangat identik dengan Kota Banjarmasin yang berjuluk Kota Seribu Sungai. Acil-acil jukung (sebutan bagi penjual) menjual

Jukung Bungas Branding Baru Banjarmasin : Contoh Collaborative Destination Development

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pasar terapung sangat identik dengan Kota Banjarmasin yang berjuluk Kota Seribu Sungai. Acil-acil jukung (sebutan bagi penjual) menjual dagangan bermacam buah-buahan dari kebun mereka merupakan ikon tersendiri bagi para pengunjung pasar terapung. Tanpa berfoto dengan acil jukung atau pun hanya dengan latar belakang dagangan acil jukung apabila berkunjung di pasar tarapung, rasanya kurang sah. Apalagi dengan branding RCTI OKE beberapa tahun silam, secara otomatis akan mengingatkan acil jukung yang berjualan di sungai Kuin saat itu. Dengan dibuatkannya pasar terapung di siring sungai Martapura setiap hari Sabtu dan Minggu di siring Piere Tendean tidaklah mengurangi keelokan dan keunikan budaya sungai bagi warga suku Banjar.

Komunitas fotografi Aura Borneo dibawah supervisi Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin telah mengemas atraksi dari para acil-acil jukung menjadi serangkaian tontonan yang menakjubkan. Kesuksesan acara ini didukung dan disponsori PT Pegadaian area Banjarmasin tanggal 23 September 2017. Bagi komunitas Aura Borneo, acara Jukung Bungas merupakan sarana silaturahmi antar fotograper baik pemula, maupun sekedar hobi bahkan bagi kelas professional, tak lupa pula bagi yang hobi selfi maupun sekedar berfoto via handphone. Bahkan sebagian expatriates datang pula dan tentunya membawa kamera yang super duper keren. Mengapa? Penulis sempat bercakap sebentar dengan expatriates bahwa nanti akan ada formasi teratai, dan tentunya berbahasa Inggris dengan expatriates tersebut. Bagi para fotograper, kesempatan itu merupakan kesempatan saling mempelajari secara tehnis maupun estetis bagaimana mengambil sebuah foto yang bagus dan menarik berdasarkan angle yang dipilih, terlepas dari jenis series kamera yang digunakan. Mereka akan saling mempelajari dengan cermat dari gesture dan pergerakan fotograper. Mereka mengejar momen yang tepat dan keren, dus saat pembelajaran bukan dengan berkomunikasi secara verbal namun berdasarkan pergerakan fotograper dan sense. Keren bukan?

Tradisi Dikemas Imajinasi
Melihat pasar terapung dengan acil-acil jukung yang berjualan berbagai macam buah-buahan mungkin sudah terbiasa. Akan tetapi setelah komunitas Aura Borneo mengawali dengan konsep pertimbangan fotografi, komposisi dan dramatisasi visual dan akhirnya diterapkan oleh acil-acil jukung ternyata menjadi tontonan yang sungguh diluar estimasti. Formasi yang sempat dibuat diantaranya adalah formasi “Kipas” yang terdiri dari acil-acil jukung berjumlah sembilan jukung yang bergabung setengah lingkaran, terdapat formasi tiga kipas seperti hanyut. Jumlah total formasi ini adalah 27 buah jukung.

Formasi lainnya adalah “Kelok Naga” yaitu jukung bermesin menarik acil-acil jukung yang berjumlah 20 buah, dimana 10 buah di kanan dan kiri jukung bermesin. Jukung bermesin berjalan perlahan berkelok ke kanan ke kiri sehinggi mirip gerakan seekor naga yang berenang di sungai Martapura. Terdapat tiga jukung bermesin yang menarik acil-acil jukung yang beriringan dan berjarak, apabila dilihat dari Menara Pandang seperti tiga ekor naga yang sedang bermain di sungai Martapura. Jumlah jukung total 60 jukung dan 3 jukung bermesin.

Formasi setangkai “Bunga Teratai” merupakan formasi paling favorit diambil oleh para fotograper karena keindahannya dan sekaligus kesederhanaannya, terdapat 17 acil-acil jukung bergabung dalam satu ikatan di ujung jukung dengan lainnya. Arus sungai Martapura yang tenang menambah keindahan formasi bunya teratai yang mengalir dari arah Pasar Lama ke jembatan Merdeka. Para fotograper di Menara Pandang pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan tak segan menjepret berkali-kali moment ini karena keindahan formasi bunga teratai akan selalu berubah seiring dengan mengalirnya arus sungai Martapura. Sudut pandang pengambilan juga memberikan sentuhan estetika dalam hasil pemotretan.

Bagaikan seekor “Ikan Pari” yang sedang melayang di laut merupakan formasi yang lain, yaitu terdiri satu jukung bermesin yang dikiri kanan terdapat jukung 11 buah di kanan dan kiri sehingga terdapat 22 buah dan ditambah 4 jukung yang bergandeng di belakang jukung bermesin sehingga seperti ekor dari ikan pari. Unbelievable, ternyata jukung-jukung yang dipakai acil di pasar tarapung dapat dibuat formasi yang mengagumkan. Apalagi saat formasi ini berjalan perlahan, mengingatkan akan keindahan seekor ikan pari (Manta Ray) di kepulauan Sangalaki di Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Sebuah pulau kecil yang dijadikan tempat suaka bagi penyu hijau bertelur dan sekaligus rumah ikan pari yang berukuran besar-besar selebar 4 meter.

Formasi unik lainnya adalah B-Masin, yang menggambarkan bahwa jukung bungas adanya hanya di Kota Seribu Sungai yaitu Kota Banjarmasin. Formasi ini berbentuk huruf B terdiri dari 6 jukung, M terdiri dari 6 jukung, A terdiri 5 jukung, S terdiri 5 jukung, I terdiri 2 jukung, N terdiri 6 jukung, sehingga keseluruhan terdapat 30 jukung untuk membentuk tulisan B-MASIN. Applaus untuk kreator formasi-formasi tersebut diatas yang telah dibuat oleh Komunitas Aura Borneo.

Sedangkan pembukaan Jukung Bungas tanggal 23 September 2017 dibuka ditengah sungai oleh Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina di atas dermaga apung yang berada di depan Menara Pandang yang dikelilingi oleh acil-acil jukung lebih dari 30 jukung merapat di dermaga tersebut. Sekilas formasi ini seperti bunga matahari yang sedang mekar. Kemeriahan acara ini ditambah dengan adanya lomba fotografi untuk peserta diperbolehkan mengambil foto dengan menggunakan berbagai macam media, seperti kamera DSLR, Mirrorless, serta kamera Handphone.

Kalender Destinasi
Adanya Jukung Bungas merupakan nilai plus bagi Kota Banjarmasin karena merupakan satu tambahan tujuan wisata atau destinasi selain yang sudah ada. Apalagi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan diperlukan unsur 3A yaitu Atraksi, Amenitas dan Aksesibilitas. Hal ini seperti dijelaskan oleh Judi Rifajantoro, Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Konekvitas Kementerian Pariwisata Republik Indonesia saat acara Collaborative Destination Development (CDD) di ruang Emerald Ballroom Hotel Mercure tanggal 6 Desember 2017. Dalam salah satu slidenya terdapat pernyataan bahwa “Tourism as Leading Sector” dengan background gambar Jokowi Presiden Republik Indonesia. Slide lainnya adalah Tourism is the easiest and cheapest contributor to foreign exchange earning and employment. Dunia pariwisata dapat memberikan kontribusi untuk meningkatkan pasar kerja dan merupakan harga termurah untuk perolehan devisa asing. Banjarmasin sebagai salah satu kota diluar 10 kota tujuan destinasi utama (Jakarta, Bali, Kepri, Joglosemar, Bunaken-Wakatobi-Raja Empat, Medan, Lombok, Makassar, Bandung, Banyuwangi) tentunya diperlukan usaha yang cukup keras untuk dapat mensejajarkan dengan kota-kota tersebut.

Sebagaimana ditekankan oleh Judi Rifajantoro bahwa Atraksi, Amenitas dan Aksesibilitas merupakan kunci peningkatan adanya arus wisatawan lokal maupun luar oleh karenanya Kota Banjarmasin musti berbenah diri untuk mempersiapkannya, senarai dengan slogan Banjarmasin sebagai Kota Seribu Sungai yang Indah di Indonesia. Perlu keikutsertaan dan dari segala pihak untuk mensukseskannya. Dalam paparan slide lain diperjelas siapa berkontribusi apa; dimana pada Atraksi – terdiri dari keterlibatan pemda, kemenpar, dinas terkait. (*)

Oleh: Mochtar Bungkus

Anggota Komunitas Aura Borneo

Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help