Berita Banjarmasin

Ternyata Balita Pendek di Kalsel Masih Banyak, Ini Datanya Menurut PSG

Dampak jangka panjangnya, anak pendek akan memiliki produktivitas rendah sehingga dapat mempengaruhi kualitas SDM

Ternyata Balita Pendek di Kalsel Masih Banyak, Ini Datanya Menurut PSG
viewlala.com
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Anak pendek (stunting) memiliki risiko lebih besar terserang penyakit tidak menular saat dewasa, seperti diabetes dan jantung koroner.

Dampak jangka panjangnya, anak pendek akan memiliki produktivitas rendah sehingga dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia sebagai tumpuan pembangunan di masa datang.

Di Kalsel berdasarkan Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Provinsi Kalimantan Selatan untuk bayi stunting menunjukkan prevalensi yang cenderung fluktuatif. Dimana pada tahun 2015 balita stunting mencapai 37,25% dan menurun pada tahun 2016 menjadi 31,12% kemudian meningkat kembali pada tahun 2017 menjadi 34,15%. Tiga kabupaten mengalami penurunan prevalensi stunting selama 3 tahun berturut-turut yaitu Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Utara dan Tanah Bumbu.

"Saya sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan sehingga berhasil menurunkan prevalensi stunting bisa menekan turun. Saya berharap penurunan stunting dapat diikuti oleh kabupaten/kota lainnya. Karena itu di Rakerkesda kami juga okutkan pendadatangan kesepakatan dengan bupati dan walikota," kata Kepala Dinas Kesehatan Prov Kalsel, HM Muslim.

Karena itu, kata Muslim, Intervensi kesehatan dalam penanggulangan stunting yang telah dilakukan diantaranya pemberian tambah darah untuk remaja putri dan ibu hamil, kelas ibu hamil, suplementasi vitamin A, promosi ASI Eksklusif, Promosi makanan pendamping ASI, suplemen gizi makro (PMT), imunisasi dan Iain sebagainya terus dilakukan dan ditambah," lanjut Muslim. (banjarmasinpost.co.id /huda)

Penulis: Nurholis Huda
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help