Opini Publik

Kontroversi Puisi Sukmawati

SUKMAWATI Soekarnoputri seharusnya bisa belajar dari apa yang menimpa Taufik Ismail, yang mendapat respons negatif peserta simposium

Kontroversi Puisi Sukmawati
banjarmasin post group
Muhammad Fajaruddin Atsnan 

Oleh: Muh. Fajaruddin Atsnan MPd, Dosen STKIP PGRI Banjarmasin

SUKMAWATI Soekarnoputri seharusnya bisa belajar dari apa yang menimpa Taufik Ismail, yang mendapat respons negatif dari para peserta Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965, khususnya korban tragedi 1965, karena dianggap puisi yang dibacakannya bernada provokatif. Atau belajar dari kasus Ahok, yang menjadi pesakitan gara-gara mengeluarkan pernyataan yang dinilai melecehkan ayat suci Alquran (penodaan agama). Namun, puisi berjudul “Ibu Indonesia” yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri dalam acara “29 Tahun Anne Avantie Berkarya” yang menganggap konde dan kidung jauh lebih indah dan merdu dibandingkan syariat Islam, cadar dan azan, seolah menunjukkan ketidakdewasaan dalam mengekspresikan suara hati sebagai bentuk demokrasi.

Patut disayangkan memang, lirik-lirik tersebut keluar dari anak dari Proklamator RI, Ir Soekarno, yang seharusnya memberikan keteduhan dan keteladanan bagi masyarakat, untuk senantiasa menjaga tutur kata, tingkah laku demi terciptanya kerukunan, kedamaian hidup antar umat beragama, suku, dalam bingkai kebhinekaan. Bukan malah, mengekspresikan suara hati melalui puisi, yang berpotensi memprovokasi.

Meskipun dengan maksud untuk mengingatkan bahwa Indonesia merupakan bangsa besar, yang majemuk, sehingga kepentingan seluruh masyarakat tanpa terkecuali harus diutamakan di atas segalanya. Atau sebagai penegas akan pentingnya kecintaan pada bumi pertiwi yang harus melampaui kecintaan pada nilai primordiar seperti keyakinan memeluk ajaran agama tertentu. Namun, cara yang dipilih untuk mengingatkan, justru berpotensi menghadirkan kegaduhan baru, di tengah galaknya ajakan pemerintah untuk memerangi hoaks dan ujaran kebencian.

Potensi munculnya polemik baru dan protes keras dari warga muslim, yang notabene mayoritas penganut agama Islam di negeri ini, terhadap puisi Sukmawati, tentu sebagai akibat dari salah kaprahnya mencampuradukkan seni dan politik yang dikemas dalam sudut pandang perbandingan antara budaya tradisional dengan syariat dalam Islam. Memang benar, bahwa puisi merupakan suatu bentuk ekspresi jiwa, tetapi tidak semua lapisan masyarakat mampu menangkap pesan tersiratnya. Dengan kata lain, bahasa dinamis seni dalam puisi memungkinkan pemaknaan dan interpretasi yang berbeda. Namun demikian, sebagai publik figure, yang membawa nama besar Soekarno, Sukmawati seharusnya bisa lebih cerdas memilih perumpamaan tanpa menyakiti atau melecehkan umat atau golongan tertentu.

Hilangnya Dulce dan Utile
Dinamika yang berkembang, memang telah mengantarkan negeri ini pada era demokrasi. Namun, demokrasi Pancasila yang lama didengungkan pascaruntuhnya orde baru, nampaknya sekarang telah bermertamorfosa menjadi demokrasi kebablasan. Terlalu bebasnya demokrasi, membuat orang seenaknya mengkritik tanpa kode etik, membully tanpa barang bukti, bahkan ikut mengadili tanpa mau mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Era demokrasi yang identik dengan keleluasaan mengaktualisasi dan mengekspresikan diri, seharusnya diiringi dengan rasa tanggung jawab, toleransi, sehingga tidak merugikan, menyudutkan Suku, Agama, RAS, dan Antar Golongan (SARA).

Sebagai salah satu bentuk mengekspresikan diri dari suara hati adalah melalui puisi. Sebagai ekspresi seni, puisi bukan lagi karya seni (sastra) yang kaku dan penuh syarat, sehingga memungkinkan bagi penulis dan pembaca puisi mengungkapkan isi hati atas suatu kondisi. Namun, bukan lantas kebebasaan dalam berpuisi diartikan sebagai alat untuk provokasi, yang didalamnya terdapat muatan atau pesan kontroversi terhadap suatu kaum. Gagasan yang disampaikan melalui puisi hendaknya memuat dua tujuan yaitu dulce dan utile.

Pertama, dulce yang berarti indah dan manis, berhubungan dengan muatan yang dikandung puisi, berupa ajaran, gagasan, atau pikiran. Kedua, utile yang berarti berguna dan bermanfaat. Lewat puisi, seseorang bisa mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang terkikis oleh perkembangan teknologi, gesekan sosial, sekaligus menyadarkan kembali manusia pada hakikat dan kedudukannya sebagai subyek dalam kehidupan yang menginginkan kedamaian dan kerukunan.

Kedua hal tersebut yang hilang dari puisi yang dibacakan Sukmawati, karena keinginan untuk mengembalikan stabilitas, keselarasan, dan keutuhan NKRI melalui penyadaran, justru mengorbankan nilai-nilai kepantasan, dengan salah kaprahnya membandingkan dua hal yang tidak setara dan tidak tepat untuk dibandingkan. Jika memang tak paham akan syariat Islam atau baru di permukaan wawasan tentang Islam, padahal penganut ajaran Islam, maka etisnya adalah mempelajari Islam secara kaffah, misalnya bertanya kepada yang mengerti, bukan malah menjadikan yang tidak dipahami sebagai bahan perbandingan.

Sensitif
Kemajemukan bangsa yang dimiliki Indonesia, memang rentan akan goncangan, manakala semua yang berbau perbedaan lebih ditonjolkan, padahal seharusnya tidak boleh dijadikan sebagai sarana untuk menyudutkan orang atau golongan tertentu. Apalagi persoalan SARA, sangatlah sensitif untuk disentuh bahkan secara halus melalui ekspresi seni, puisi. Di tengah kondisi yang mulai kondusif (2018), pasca bergulirnya kasus Ahok dengan berbagai kasus ujaran kebencian berbau SARA dan penodaan agama terus terjadi hampir di sepanjang tahun 2017, seharusnya para tokoh bangsa, termasuk Sukmawati, mampu menunjukkan sikap kenegarawannya dengan berekspresi tanpa mengandung unsur-unsur SARA, yang bisa memicu konflik dan perdebatan panjang yang notabene menguras energi publik.

Kontroversi dari puisi Sukmawati hendaknya kembali dijadikan hikmah atau pelajaran terutama bagi masyarakat akan pentingnya sikap kritis dan cerdas agar tidak mudah termakan perangkap aktor ujaran kebencian, intoleransi, dan penistaan agama. Pertama, berharap agar pemerintah dan penegak hukum bisa tegas bertindak, memposisikan sebagai institusi negara, bukan wakil partai atau golongan, sehingga mampu memproses Sukmawati sesuai hukum yang berlaku terhadap dugaan penistaan agama Islam, secara objektif, adil, dan benar. Jangan sampai pemerintah dan penegak hukum terjebak pada pilihan sulit akibat terpolitisasi yang kemudian masuk dalam perangkap opini para partisan, sehingga terjerumus masuk dalam permainan kotor politik yang nyata-nyata merugikan kepentingan negara dan bangsa, terutama dalam menjaga keutuhan NKRI.

Kedua, berharap umat Islam tetap cooling down. Sebagai umat mayoritas, yang tersakiti wajar ketika mengungkapkannya dalam bentuk kemarahan dan menginginkan agar secepatnya diproses hukum. Apalagi luka mungkin belum kering akibat kasus Ahok, justru muncul dugaan pelecehan Islam lewat “puisi konde dan kidung”nya Sukmawati. Namun, disinilah kedewasaan kita kembali diuji, apakah kita mampu menunjukkan jati diri Islam sebagai agama yang cinta damai, tidak anarkhis, yang umatnya cerdas, berakhlak mulia, serta tidak mudah terpancing pada isu-isu sensitif. Jangan sampai isu-isu yang datang dari oknum yang “tak paham syariat” justru menghambat agenda-agenda strategis bagi kemajuan Islam. Sikap para tokoh besar muslim (ulama) dalam mengajak umat untuk lebih bijaksana dalam menyikapi aksi-aksi provokatif juga sangat krusial agar tidak menyedot energi umat Islam.

Terakhir, benar bahwa kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan suku, agama, atau kelompok tertentu, karena bangsa ini lahir dari wujud keberagaman yang mengedepankan toleransi. Juga benar bahwa ingin kembali mengingatkan bahwa Indonesia adalah bangsa majemuk, tetapi jangan sampai membuat blunder yang menyakiti umat mayoritas negeri. Semoga. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved