Tajuk

Menyoal Ibu Indonesia

PUISI “Ibu Indonesia” Sukmawati Soekarnoputri pada acara ‘29 Tahun Anne Avantie Berkarya’ di Jakarta, Senin (2/4) menuai kontroversi

Menyoal Ibu Indonesia
Via Tribunnews.com
Sukmawati Soekarnoputri 

PUISI  “Ibu Indonesia” yang dibaca Sukmawati Soekarnoputri pada acara ‘29 Tahun Anne Avantie Berkarya’ di Jakarta, Senin (2/4) menuai kontroversi di darat dan udara.

Tiga hari belakangan, jagad sosial media dipenuhi hujatan, kritikan, dukungan, analisa dan aneka ragam terkait ‘Ibu Indonesia.’ Ada yang dalam bentuk status facebook, kicauan di twitter, komentar di unggahan teman, atau mengupload video pembacaan puisi sanggahan.

Sejumlah pihak juga tidak berhenti pada pernyataan, ada yang langsung membuat aduan ke polisi dengan tuduhan; Menistakan agama (Islam).

Reaksi massif itu direspons cepat Sukmawati. Rabu (4/4), ia pun menggelar jumpa pers yang intinya mengaku khilaf dan minta maaf pada warga bangsa yang terusik diksi, makna atau tafsir kalimat-kalimat dalam puisi itu.

Sebagai bangsa yang beradab, tentu kita semua berkewajiban memaafkannya. Sambil berharap, Sukmawati menyadari ada yang tidak proporsional dalam ungkapan puisinya.

Yakni, membandingkan ‘keindahan kepala atau suara’ dari perspektif ajaran agama dan fakta sosial. Tentu, hasil akhir pandangannya tidaklah pernah sama karena masing-masing punya subyektivitasnya atau obyektivitas kelompok.

Ya, konde mungkin memang indah bagi sebagian mata. Tapi, cadar juga indah bagi sebagian lainnya yang mempercayai perintah untuk mengenakannya. Demikian juga azan juga merdu bagi orang yang meyakininya sebagai panggilan Tuhan, tapi kidung juga merdu bagi sebagian lainnya.

Selesaikah masalahnya saat Sukma minta maaf atau bahkan sudah menyadari kesalahannya? Rasanya, sebagian besar para pengadu ke polisi tak akan mencabut laporannya meski sang terlapor sudah minta maaf.

Dengan begitu, polisi tidak punya kewenangan menghentikan perkara itu, alias penyelidikan bakal berlangsung hingga menemukan bukti permulaan yang cukup sehingga kasusnya meningkat menjadi penyidikan. Atau, polisi tidak menemukan bukti permulaan yang cukup sehingga kasus ini dihentikan.

Tentu, akhir dari drama di ranah hukum ini hanya bisa kita tunggu. Sambil memberikan kepercayaan kepada penegak hukum untuk bekerja professional tanpa tekanan massa, politisi, penguasa atau dari siapapun.

Meski tidak mengintervensi, kita juga mesti melotot secara bijak (Sekali lagi: bijak) agar apapun hasil akhir di tahap penyelidikan ini bisa diterima secara baik dan bijak oleh warga bangsa. (*)

Penulis: musyafi
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help