Tajuk

Ancaman dan Peluang dari Gedung Putih

Trump menerapkan tarif bea masuk tinggi terhadap sejumlah produk dari Negeri Tirai Bambu untuk bisa masuk ke negara Uncle Sam.

Ancaman dan Peluang dari Gedung Putih
Donald Trump dan Xi Jinping 

GENDERANG perang ditabuh Gedung Putih. Presiden Donald Trump menyatakan ‘perang dagang dengan China. Trump menerapkan tarif bea masuk tinggi terhadap sejumlah produk dari Negeri Tirai Bambu untuk bisa masuk ke negara Uncle Sam.

Kamis (22/3) kemarin, Presiden Trump mengumumkan kebijakan sanksi terhadap China yang menilai Negari Tirai Bambu itu mendorong pencurian dan transfer kekayaan intelektual dari perusahaan-perusahaan internasional, termasuk AS. Trump geram kebijakan China itu.

Selain alasan di atas, Trump menjatuhkan sanksi terhadap China dengan pemberlakuan tarif bea masuk tinggi bagi baja dan almunium. Pemberlakuan tarif bea senilai antara US$ 30 miliar-US$ 60 miliar (Rp 410 triliun-Rp 830 triliun), serta berbagai langkah yang akan membatasi investasi. Selama ini, China menjadi pengimpor alumunium terbesar ke-8 ke negara Paman Sam setelah Kanada dan Uni Eropa, disusul Korea Selatan, Meksiko, dan Brasil.

China pastinya tidak tinggal diam. Kabarnya, China pun telah melist 120 barang impor dari AS yang bakal dikenakan tarif impor tinggi dengan tarif bea masuk sekitar 15 persen hingga 25 persen.

Trump memang harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan perekonomian negaranya mengingat besarnya devisit perdagangan negara dengan China mencapai US$ 500 miliar setahun, ditambah pencurian hak kekayaan intelektual US$ 300 miliar.

Di sisi lain, momentum kegamangan ekonomi sekaligus itu juga menjadi alasan bagi Trump menyerang para pendahulunya di Gedung Putih yang dinilainya tidak becus mengelola perekonimian negara. Christine Lagarde, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), mengatakan perang dagang ciptaan Trump itu berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi global.

Dan, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyeru anggotanya “mencegah jatuhnya domino pertama” perang dagang. “Begitu kita mulai menempuh jalan ini, akan sangat sulit untuk membalikkan arah. Mata dibayar mata akan membuat kita semua buta dan dunia kan terpuruk dalam resesi yang dalam,” kata Roberto Azevedo, Direktur Jenderal WTO Roberto Azevedo kepada para perunding di Jenewa.

Bagi Indonesia, genderang perang dagang AS dan China, harus disikapi pemerintahan Jokowi dengan kepala dingin. Perang dagang itu berimbas pada negeri ini. Yang pasti, impor barang dari China yang dilarang masuk AS bakal menyerbu Indonesia –yang tentunya juga bakal membuat para produsen di dalam negeri ketar-ketir khawatir kalah bersaing.

Namun, sejatinya, ini justru menjadi peluang baru bagi Indonesia. Sebab, produk Indonesia bisa lebih leluasa memanfaatkan peluang ‘kosongnya’ baik produk China di AS maupun sebaliknya. Ini seharusnya menjadi momentum kita menyerbu pasar-pasar di AS dan China. Kita harus menangkap peluang itu mengingat Indonesia satu-satunya negara di ASEAN yang neraca perdagangannya mengalami devisit 14 miliar dolar AS dengan China. Sudah siapkah pemerintahan Jokowi menangkap peluang itu? (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help