Jendela

Debat di Medsos

RUANG publik kita seolah tak pernah sepi dari kontroversi, terutama soal agama yang beraroma politik.

Debat di Medsos
dokumen banjarmasinpost.co.id

MUJIBURRAHMAN, Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

RUANG publik kita seolah tak pernah sepi dari kontroversi, terutama soal agama yang beraroma politik. Sudah biasa, dalam politik, garis pemisah antara aku dan kamu, kita dan mereka, harus dipertegas dan dipertebal agar persekutuan menghadapi lawan benar-benar solid.

Garis pemisah itu bisa berupa nasionalis lawan Islam, Muslim lawan non-Muslim, pribumi lawan ‘non-pribumi’ dan seterusnya.

Garis pemisah dan perseteruan tersebut makin tampak atau sengaja ditampak-tampakkan melalui sarana komunikasi kontemporer di dunia maya dengan kebebasan nyaris sempurna bernama media sosial atau medsos.
Perdebatan di media sosial seperti Facebook, Twitter, dan WhatsApp, jarang sekali berujung pada kesepakatan apalagi pemecahan masalah. Yang terjadi justru ngotot-ngototan dan saling hujat.

Mungkin inilah penyakit sosial masyarakat era digital, yang virusnya menjalar ke mana-mana, ke seluruh ruang dan waktu hidup manusia. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, yang dielus-elus tiada lain daripada ponsel pintar.

Alat komunikasi itu lah yang menghubungkan orang dengan teman-temannya, sekaligus musuh-musuhnya. Siapa teman dan musuh itu pun gampang berubah, tergantung suasana hati dan kepentingan saat ini.

Namun, meskipun generasi elektronik berbeda dengan generasi mesin ketik, generasi penunggang kuda berbeda dengan generasi pesawat terbang, manusia sebagai manusia tetaplah sama.

Debat kusir yang tujuannya adalah menang-menangan dan menista lawan, bukanlah hal baru. Dalam diri tiap manusia, ada nafsu sabûi’yyah yakni nafsu kebuasan, ingin menang sendiri, menguasai dan menerkam lawan.

Lebih dari sembilan ratus tahun lalu, al-Ghazali (w.1111) menyinggung persoalan ini sebagai fenomena di zamannya, ketika tokoh-tokoh berbagai aliran dan gerakan keislaman berebut pengaruh di ranah sosial dan politik.

Al-Ghazali tidak hanya menyaksikan tetapi turut serta dalam debat-debat itu, baik dalam pertemuan langsung ataupun melalui tulisan-tulisannya. Kelak ia menyesali keterlibatannya itu.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved