Jendela

Debat di Medsos

RUANG publik kita seolah tak pernah sepi dari kontroversi, terutama soal agama yang beraroma politik.

Debat di Medsos
dokumen banjarmasinpost.co.id

Ketika saya masih belajar di Pesantren Al-Falah tahun 1980-an, saya menemukan sebuah risalah karya al-Ghazali di perpustakaan berjudul Ayyuhal Walad. Karya ini semula adalah surat al-Ghazali kepada seorang muridnya yang meminta nasihat kepadanya.

Risalah ini sangat berkesan di hati saya, antara lain karena tampak betapa dekat al-Ghazali kepada muridnya, yang diperlakukannya seperti anaknya sendiri.

Baru-baru ini saya membaca ulang risalah itu. Saya terperangah dengan salah satu nasihat al-Ghazali kepada muridnya. Ia menulis, “Hindarilah sebisa mungkin perdebatan, karena perdebatan itu menyimpan banyak penyakit, mudaratnya lebih besar dari manfaatnya. Ia adalah sumber setiap sifat tercela seperti pamer, dengki, sombong, dendam, permusuhan, bermegah-megahan dan lain-lain.”

Al-Ghazali tidak menyangkal bahwa melalui diskusi dan perdebatan, orang bisa mendapatkan kebenaran dan kebaikan. Namun, hal ini hanya bisa dicapai dengan ketulusan hati. Ketulusan itu dapat dibuktikan dengan dua indikator.

Pertama, kamu tak membedakan apakah kebenaran itu muncul dari lidahmu atau orang lain. Kedua, kamu lebih suka diskusi itu dilaksanakan tertutup ketimbang di depan orang banyak.

Kemudian, al-Ghazali mengatakan, ketika orang mempertanyakan satu masalah kepadamu, kamu tidak mesti harus melayani. Ada empat tipe manusia, tiga di antaranya tidak perlu dilayani.

Tipe yang harus dilayani adalah orang yang memiliki kecerdasan memadai dan benar-benar mengharapkan petunjuk. Pertanyaannya tidak didorong oleh rasa benci, dengki, ingin menguji ataupun permusuhan.

Tiga tipe manusia lainnya,kata al-Ghazali, tidak perlu dilayani. Pertama, orang yang mendebat karena benci, dengki dan pamer semata. Kedua, orang yang memiliki wawasan sempit, tetapi sudah merasa pintar, melebihi orang yang telah mengkaji berbagai ilmu sepanjang hayat.

Ketiga, orang yang memiliki kecerdasan yang rendah. Dia ingin sekali paham, tetapi kecerdasannya tidak mampu menjangkaunya.

Bagi saya, al-Ghazali seolah berbicara tentang debat-debat panas di media sosial era digital ini. Patut kiranya kita bertanya, dari empat tipe manusia di atas, kita termasuk yang mana? (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help