Tajuk

(Perlukah) Bandara Baru

Sebagaimana diwartakan Banjarmasin Post akibat kerusakan infrastruktur bandara tersebut, penerbangan menuju ke Syamsudin Noor

(Perlukah) Bandara Baru
dokumen banjarmasinpost.co.id
Banjarmasin Post edisi Senin (9/4/2018). 

PERSOALAN demi persoalan terus saja mendera bandar udara (bandara) Syamsuddin Noor, Banjarbaru. Terkini, terjadi kerusakan pada landasan pacu berupa terkelupasnya lapisan aspal di tengah runway, yang berdampak terhadap pengalihan rute penerbangan.

Sebagaimana diwartakan Banjarmasin Post edisi 8 April 2018, akibat kerusakan infrastruktur bandara tersebut, penerbangan menuju ke bandara Syamsudin Noor terpaksa dialihkan ke bandara Juanda, Surabaya.
Kondisi tersebut tentu sangat tak nyaman bagi para penumpang yang masing-masing tentu memiliki kesibukan aktivitas yang harus segera ditangani di tempat yang dituju. Apalagi sebagian pesawat ada yang telah berada di sekitar bandara, namun terpaksa putar balik dan mendarat di bandara Juanda.

Meski langkah cepat dilakukan pengelola bandara Syamsudin Noor, namun bertubi-tubinya persoalan teknis dan nonteknis yang melingkupi bandara Syamsudin Noor selayaknya membuka kembali khazanah pemikiran publik di Kalimantan Selatan terhadap alternatif bandara baru di Banua ini. Terutama bagi mereka yang memegang otoritas kebijakan.

Sekitar sepuluh tahun silam, telah menggema wacana pembangunan bandara baru di Kabupaten Tanahlaut (Tala). Tepatnya di wilayah Desa Malukabahulin, Kecamatan Kurau. Kondisi topografi wilayah ini dinilai sangat layak untuk dijadikan sebagai bandara bahkan untuk level internasional.

Pasalnya semua persyaratan untuk pengembangan bandara internasional terpenuhi. Di antaranya topografinya tinggi, berdekatan dengan laut (Jawa) hanya berjarak sekitar sepuluh kilometer, jauh dari permukiman penduduk, dan aksesibilitas yang nyaman dan memadai.

Bahkan, beberapa tahun silam telah ada riset teknis yang dilakukan Balitbangda Provinsi Kalsel bekerjasama dengan tim dari universitas ternama di Pulau Jawa. Hasilnya, kawasan Malukabahulin dinyatakan sangat layak dikembangkan menjadi bandara.

Hasil riset itu tak mengejutkan. Mengapa? Soalnya jika dirunut ke masa lalu, kawasan Malukabahulin memang telah menjadi ‘bandara’ pasukan penjajah (Jepang). Bentang eks landasan pacunya bahkan masih ada hingga sekarang meski kondisinya telah terselimuti rerumputan. Bangunan dan tower menara pantaunya pun masih ada. Aset ini aman karena area itu milik TNI AU sehingga terus dijaga dan diamankan.

Beberapa tahun silam TNI AU dan Tentara Udara Diraja Malaysia bahkan pernah melakukan latihan perang bersama di situ, beberapa tahun silam. Pesawat helikopter, kala itu, dengan mudah mendarat karena areanya sangat lapang dan nyaman.

Wacana pembangunan bandara baru di Malukabahulin tersebut, dulu juga pernah digaungkan anggota DPD RI Sofwat Hadi. Pemkab Tala pun juga telaj menyatakan kesiapan memberikan segala fasiltas dan kemudahan perizinan, termasuk masyarakat sekitar lokasi.

Kini, tinggal para pemangku kebijakan di Banua ini, apakah akan mengristalisasi wacana tersebut atau sebaliknya. Satu hal yang pasti, pembangunan bandara merupakan keniscayaan untuk merespons kemajuan pembangunan dan ledakan jumlah penduduk. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved