Tajuk

Tanding Ulang Jokowi-Prabowo

Sampai hari ini, dukungan dari Gerindra memang belum memenuhi syarat untuk maju sebagai kandidat presiden

Tanding Ulang Jokowi-Prabowo
kompas.com/Fabian Januarius Kuwado
Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Gerindra Prabowo saat bertemu di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (17/11/2016). 

PARTAI Gerindra resmi mengusung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, sebagai bakal calon presiden (Capres) 2019-2024. Pernyataan itu disampaikan pada Rapat Kerja Nasional (Rakornas) di Hambalang, Rabu (11/4) yang pembukaannya dihadiri petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Sampai hari ini, dukungan dari Gerindra memang belum memenuhi syarat untuk maju sebagai kandidat presiden, karena partai itu hanya punya 13,04 persen kursi di DPR RI hasil Pemilu 2014. Sedangkan KPU mensyaratkan calon presiden harus didukung sedikitnya 20 persen kursi atau suara.

Tapi, untuk melengkapi jumlah dukungan, Prabowo dipastikan tidaklah sulit. Melihat gelagatnya, dukungan tambahan itu bisa diperolehnya dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Bila ketiganya bergabung, mantan Danjen Kopassus itu akan memperoleh dukungan 28,93 kursi atau 26,82 suara.

Jika skenario itu berlangsung mulus, ia akan menantang Joko Widodo yang sudah mengantongi 51,79% dukungan berdasarkan kursi atau 53,58% berdasarakan suara, milik lima partai peserta Pemilu 2014. Dukungan itu disumbang PDI Perjuangan, Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, Nasdem, Hanura. Sokongan juga diberikan sejumlah partai baru (nol persen), yakni Perindo dan PSI.

Sisanya, Partai Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dipastikan tidak akan bisa mengusung Capres ketiga. Keduanya hanya mengumpulkan 19,69 kursi DPR RI atau 19,29 persen suara pada Pemilu 2014.

Dengan demikian, hampir bisa dipastikan Pilpres 2019 hanya diikuti dua calon, yakni orang yang sama pada pertarungan 2014. Ya, Jokowi dan Prabowo bisa disebut bakal tanding ulang untuk membuktikan yang menang.

Tentu, cara dan materi kampanye yang ‘terbaik’ dan ‘terbenar’ lah yang akan memenangi pertarungan itu.
Bukan ditentukan persentase dukungan kursi atau perolehan suara partai pada 2014. Karena pertarungan ulang itu akan terjadi pada 2019 dan bukan pada 2014.

Di saat mereka bersiap bertarung, kita sebagai bangsa juga wajib menata komitmen. Bahwa, selama kampanye yang bakal berlangsung cukup panjang nanti, penghidupan kita, persaudaraan kita dan kemanusiaan kita, tidak lah perlu teraduk-aduk.

Biarlah mereka bertarung dengan kekuatannya, dan kita menyaksikannya secara bahagia. Dan ketika satu di antara mereka menang, kita bisa berdiri bersama-sama untuk kemudian bertepuk tangan untuk membahanakan nusantara.

Bukankah menyukai, mencintai, mendukung, menyetujui sesuatu atau seseorang sangat bisa dilakukan dengan tanpa tidak menyukai, tidak mencintai, tidak mendukung orang atau sesuatu yang lain? (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved