Tajuk

Menggugat UNBK

Alasannya pelaksanaan UNBK termasuk perlakuan salah oleh negara terhadap anak di bidang pendidikan

Menggugat UNBK
faturahman
Para siswa siap mengikuti UNBK di sekolahnya, karena sudah dilakukan beberapa simulasi sebelum pelaksanaan UNBK. 

BARU saja peserta Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 tingkat SMA/SMK/sederajat selesai mengikuti UNBK, muncul gugatan terhadap UNBK. Gugatan itu datang dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA).

Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas dan Budaya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Elvi Hendrani, mengusulkan agar UNBK dihapus. Alasannya pelaksanaan UNBK termasuk perlakuan salah oleh negara terhadap anak di bidang pendidikan. UNBK tersebut juga dianggap meresahkan anak, orangtua, dan bahkan pihak sekolah.

Alasan lain, UNBK banyak menimbulkan kegiatan dan perilaku yang di luar kebiasaan dan tidak berhubungan langsung dengan ujian akhir di sekolah. Misalnya berdoa bersama sampai menangis, anak bermaaf-maafan dan lainnya. Kegiatan itu justru menambah stres bagi anak, orangtua dan sekolah itu sendiri.

Kedua alasan itu memang masuk akal. Namun rasanya terlalu pagi atau terlalu cepat kalau UNBK dihapuskan. Masih diperlukan lima tahun lagi untuk menentukan sikap, menghentikan dan melanjutkan UNBK.

Pemerintah sendiri mengadakan program UNBK itu bertujuan mulia, yakni meningkatkan kualitas pendidikan, utamanya untuk program ujian nasional. Selain itu, tujuan UNBK kedepannya adalah dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dan diharapkan nilai kelulusan nantinya bisa dijadikan patokan untuk jenjang pendidikan berikutnya.

Sedangkan fungsi UNBK adalah mengantisipasi kebocoran soal ujian nasional. Fungsi lainnya dapat meningkatkan semangat belajar.

Kita akui, pelaksanaan UNBK 2018 masih belum sempurna. Seperti ada kendala server down, rusak, kena virus dan jaringan internet bermasalah, sehingga saat pengiriman hasil jawaban terkendala. Ketidaksempurnaan pelaksanaan UNBK ini terjadi di sebuah SMA di Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Sebanyak 29 peserta UNKB terpaksa mengikuti UNBK susulan karena ada masalah pada aplikasi UNBK. Peserta UNBK tidak bisa mengirimkan jawaban atas soal UNBK Matematikan yang mereka kerja ke server. Tapi masalah tersebut sudah bisa di atasi dengan mengadakan UNBK susulan.

Sebenarnya, yang harus menjadi perhatian kita bersama adalah soal UNBK. Dari pengakuan peserta UNBK, soal terlalu sulit. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, mengakui sulitnya soal UNBK, khususnya matematika.

Effendy mengatakan Matematika tahun ini lebih sulit dibandingkan tahun sebelumnya karena menyesuaikan standar internasional.

Boleh saja soal UNBK menyesuaikan dengan standar pendidikan internasional. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah para gurunya sudah memenuhi standar internasional. Kalau belum, ada baiknya pemberian soal berstandar internasional itu jangan dipukul rata. UNBK jangan dihapuskan tapi jangan juga membuat peserta UNBK jadi stres. Jalan tengahnya, jangan membuat soal UNBK terlalu sulit tapi disesuaikan dengan kemampuan pesertanya. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved