Opini Publik

Kartini Tak Sekadar Konde dan Kebaya

Terlepas dari pro dan kontra penamaan peringatan perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia dengan sebutan Hari Kartini

Kartini Tak Sekadar Konde dan Kebaya
Raden Ajeng Kartini 

OLEH: TANTRI VERAWATI, SIP MSi

Sekretaris P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan & Anak)
Kota Banjarmasin, dan Dosen LB Ilmu Komunikasi ULM

Sejak 1964, Indonesia di era presiden Soekarno menetapkan tanggal lahir Kartini pada 21 April sebagai hari peringatan perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia dengan penyebutan Hari Kartini. Kartini dijadikan sebagai sebuah simbol upaya perjuangan seorang wanita memperjuangkan hak-haknya agar setara dengan kaum pria. Meski, upaya perjuangan ini tidak hanya hadir dari seorang Kartini, karena realitanya sejarah mengatakan bahwa masih banyak pejuang wanita Indonesia lainnya yang juga telah nyata memberi kontribusi positif bagi bangsa Indonesia, sebut saja Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan, Cut Nyak Dien, Christina Marta Tiahahu, Rohana Kudus, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan dan masih banyak pejuang wanita lainnya yang nyata memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia.

Mengenal Perjuangan Kartini yang Sesungguhnya
Terlepas dari pro dan kontra penamaan peringatan perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia dengan sebutan Hari Kartini, perlu juga kita mengetahui mengapa Kartini ditetapkan sebagai salah satu pahlawan nasinal perempuan di Indonesia. Kartini hidup di masa yang begitu sulit bagi perempuan untuk berkarya, beliau hidup di zaman dengan budaya yang masih mengungkung perempuan. Bangku sekolah hanya bisa dinikmati oleh kaum pria, itu hanya salah satu contoh bentuk ketidak berdayaan perempuan kala itu. Dimana kaum perempuan “hanya cukup” menjadi “konco wingking” atau “teman di belakang” saja, hanya seputaran dapur, sumur dan kasur. Perempuan saat itu lebih difokuskan untuk disiapkan menjadi istri yang bertanggung jawab di wilayah domestik urusan rumah tangga, sehingga dianggap tak perlu mengenyam bangku pendidikan.

Kartini lebih diuntungkan dibanding perempuan-perempuan di sekitarnya kala itu, karena lahir di tengah keluarga bangsawan dan berkecukupan. Dengan pergaulan yang cukup luas serta tingkat pendidikan yang lebih baik dari kaumnya di masa itu, meski begituKartini tidak larut dalam zona nyamannya, hatinya gundah akan kondisi perempuan saat itu. Inilah yang melatar belakangi tulisan-tulisan yang dikirimnya ke sahabatnya di Belanda. Kartini menuangkan mimpi dan idenya untuk dapat meningkatkan kualitas hidup perempuan, salah satunya lewat pendidikan sekolah. Dia bermimpi bahwa suatu saat, semua perempuan di Indonesai bisa bersekolah, mampu meningkatkan kualitas dirinya serta mampu memberdayakan dirinya sebagai wanita.
Kartini tidak sedang memperjuangkan kebaya dan konde, karena baginya itu adalah simbol, ada hal lain yang lebih penting dari sekedar simbol, maka Kartini tak pernah mempermasalahkan tentang konde, kebaya, ataupun kerudung.

Hidup dalam kondisi budaya yang masih kuat mengungkung perempuan, Kartini telah mampu memvisualisasikan mimpi dan idenya yang besar bagi peningkatan hidup perempuan, salah satunya dengan membuka sekolah perempuan. Sebuah aksi nyata yang sangat tidak mudah diwujudkan bila kita melihatnya dalam kacamata situasi kala itu. Ini poin lebihnya, bahwa Kartini yang sudah pada zona nyamannya tetap memiliki “concern” dan empati tinggi meningkatkan kualitas perempuan di sekitarnya. Padahal, ia bisa saja memilih untuk tetap diam di kemewahan dan kenyamanannya, tanpa harus memikirkan kondisi perempuan bangsanya. Tapi Kartini menggugat, karena menurutnya berdayanya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh berdayanya kaum wanita. Nilai keperdulian inilah yang seharusnya menjadi panutan dan layak untuk ditauladani kini.

Bias Pemaknaan Hari Kartini
Sudah sejauh mana pemaknaan hari Kartini di negri ini? Apakah sudah masuk ke upaya melanjutkan nilai-nilai perjuangan Kartini, atau justru masih terjebak pada perayaan simbol asesoris semata. Kita bisa melihat, setiap tanggal 21 April hampir seluruh sektor di lingkungan sekolah, pemerintahan, perkantoran, dll memperingatinya dengan penggunaan simbol-simbol seperti kebaya, sanggul, konde dan asesoris lainnya. Masyarakat lebih hiruk pikuk dan fokus pada persiapan asesoris simbol semata, namun lupa memaknai arti sesungguhnya perjuangan Kartini.Yang terlihat lebih mendominasi pada setiap peringatan Hari Kartini adalah sekadar mengganti pakaian harian menjadi kebaya dan jarit atau sanggul konde, dan kurang mampu memaknai semangat perjuangan Kartini yang sesungguhnya.

Esensi dari pemaknaan Hari Kartini lebih terjebak pada seremonial semata, bukan pada esensi perjuangan Kartini di masanya. Padahal perjuangan Kartini jauh dari sekedar simbol dan seremonial belaka. Semangat Kartini adalah sebuah pemberontakan kultural terhadap lingkungan yang kurang kondusif, agar bisa memberikan pengabdian bagi orang lain yaitu kaum perempuan di masanya dan perempuan bangsanya di masa yang akan datang.

Hal yang sangat visioner. Nilai berbagi dan menebar kebermanfaatan ini seharusnya yang lebih ditauladani di era kini. Bagaimana setiap individu masyarakat lebih peduli dengan sekitar, berani keluar dari zona nyamannya, dan berbuat untuk peningkatan kualitas lingkungannya.

Semangat Kartini adalah sebuah pemberontakan kultural terhadap lingkungan yang kurang kondusif, agar bisa memberikan pengabdian dan kebermanfaatan bagi orang lain. Kartini ingin memberikan yang terbaik dimasa hidupnya bagi kaum perempuan dan bangsanya.

Semangat ini yang harusnya disosialisasikan dan ditularkan dalam setiap peringatan tiap tahunnya, bahkan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga esensi dalam memperingati Hari Kartini yang pada umumnya masih sekadar seremonial bisa diubah menjadi semangat berlomba-lomba berbuat kebaikan dan menebar kebermanfaatan bagi orang lain.

Pada akhirnya, jejak peringatan yang ditinggalkan, bukan sekedar foto-foto perempuan bersanggul, berkebaya, atau foto kegiatan lomba memasak, peragaan busana dan sejenisnya. namun kegiatan yang sifatnya mampu menularkan semangat perempuan-perempuan yang mampu memberikan kontribusi positif bagi diri serta lingkungannya. Peringatan Hari Kartini bisa dikaitkan dengan aksi atau program peningkatan kualitas perempuan bangsa, misalnya aksi penurunan angka kematian ibu, peningkatan gizi keluarga, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, pencegahan pernikahan dini, pengelolaan keuangan rumah tangga, pendampingan usaha kecil kaum perempuan dan lain-lain yang lebih nyata efek pemberdayaannya.

Kita perlu memaknai perjuangan Kartini secara lebih konkret dan aplikatif untuk kemajuan bangsa, jangan terpaku pada imbauan mengenakan pakaian daerah saja, sehingga terkesan peringatan Hari Kartini akhirnya berujung ada sanggul konde dan kebaya semata. Selamat Hari Kartini, wahai perempuan-perempuan di Indonesia. Jangan lupa berkarya dan berdaya!

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help