Berita HST

Demi Melanjutkan Sekolah, Peserta UNBK dari Meratus Pun Ngekos Selama Empat Hari

Sejak pagi, siswa dijemput ke sekolah masing-masing, agar tak ada alasan untuk tak ikut UNB.

Demi Melanjutkan Sekolah, Peserta UNBK dari Meratus Pun Ngekos Selama Empat Hari
banjarmasinpost.co.id/hanani
Siswa SMP dari sekolah-sekolah terpencil di Meratus pertama kalinya mengikuti UNBK di SMAN 9 Kecamatan Batangalai Timur (BAT), Hulu Sungai Tengah, Senin (23/4/2018) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI- Peserta UNBK dari tiga SMPN di Kecamatan Batangalai Timur, Senin (23/4/4/2018) menuju lokasi SMAN 9 BAT tempat digelarnya UNBK harus dijemput menggunakan mobil pikap, mengingat jauhnya jarak sekolah mereka.

Sejak pagi, siswa dijemput ke sekolah masing-masing, agar tak ada alasan untuk tak ikut UN gara-gara tak punya sarana transportasi.

Sarana angkutan disediakan oleh Dinas Pendidikan HST. “Sebenarnya mau pakai mobil biasa, avanza, tapi tak cukup. Selain itu banyak yang tak terbiasa naik mobil tertutup dan mereka mengaku bisa mabuk. Jadinya menggunakan mobil pikap ini,” kata salah satu guru.

Namun, jelas dia ada pula yang menggunakan sepeda motor sendiri, dan sebagian diantar oleh kakaknya.

UNBK SMP dilaksanakan sampai Kamis mendatang. Sebagian siswa pun memilih neg-kost di rumah penduduk setempat. Sebagian lagi tinggal di asrama, namun kapasitas asrama masih terbatas. Di antara siswa peserta UN dari Meratus itu, Jidiwan, merupakan siswa yang tempat tinggalnya jauh di desa terpencil, yaitu Desa Juhu.

Namun, sejak sekolah di SMPN 2 Satap Hinas Kiri, Jidiwan tinggal di rumah keluarganya di Atiran. “Satu sebulan sekali dia baru bisa pulang ke Juhu,”ungkap teman Jidiwan, Wandi.

Selain Juhu, desa yang tak kalah jauhnya, adalah Indan. Putri Anjani, dari Desa Indan mengatakan, dari rumahnya ke sekolahnya di SMPN 2, ditempuh dengan berjalan kaki berjam-jam.

“Selama ujian, saya kost di Batubatangga, dekat SMAN 9,”kata Anjani. Selama ngekos itu pula, mereka memasak sendiri untuk kebutuhan makan pagi dan malam, karena makan siang disediakan pihak sekolah. Meski mereka harus berjuang untuk pendidikan SMP, warga desa terpencil itu mengaku tak mau putus sekolah, hanya sampai di SMP.

“Saya harus melanjutkan SLTA. Rencana mau ke SMKN 1 Barabai, ngambil jurusan Multimedia,”tutur Wandi dari Desa Atiran. Wandipun mengatakan belum tahu ingin jadi apa selepas SMA atau SMK. ‘Yang penting sekolah tinggi dulu semampunya, agar bisa mengubah nasib,”pungkasnya. (banjarmasinpost.co.id/hanani)    

Penulis: Hanani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help