Tajuk

Rumitnya Mencari ‘Orang Kedua’

Bisa jadi, ya. Kita bisa tengok beberapa waktu terakhir ini sejumlah tokoh ‘menjual diri’ untuk menjadi ‘orang pilihan’.

Rumitnya Mencari ‘Orang Kedua’
Juru Foto Kepresidenan/Agus Suparto via TRIBUNNEWS.com
Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto seusai acara Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10/2017). 

BENARKAH negeri kita kini tengah demam publik figur?

Bisa jadi, ya. Kita bisa tengok beberapa waktu terakhir ini sejumlah tokoh ‘menjual diri’ untuk menjadi ‘orang pilihan’.

Entah pilihan siapa, kita juga belum mengerti. Yang pasti, orang-orang ini berharap bisa menjadi bagian penting dari sebuah kontestasi calon pemimpin bangsa ini.

Joko Widodo memang sudah dipatenkan sejumlah partai politik menjadi calon utama yang bakal kembali ikut dalam konstestasi tahta kekuasaan di negeri ini.

Dan, hingga detik ini, masih belum ada bakal figur calon lawan dari mantan kepala daerah di Kota Solo dan DKI Jakarta yang populer dipanggil Jokowi itu. Yang justru ramai malah mereka yang menasbihkan dirinya sebagai sekondan alias wakil Jokowi untuk ikut dalam musyawarah akbar bangsa ini pada 2019 mendatang.

Nama Muhaimin Iskandar, ‘bigboss’ Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Romanhurmuziy, sang nakhoda Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Erlangga Hartanto, pemimpin puncak Partai Golkar mengikrarkan diri menjadi sekondan Jokowi.

Benarkah mereka cocok duduk bersanding dengan Jokowi? Suka tidak suka, tentunya ini sebuah pilihan sulit bagi Jokowi yang berasal dari basis massa partai nasionalis sekuler menentukan pilihan siapa yang pas buat dirinya.

Jika Jokowi memilih satu di antaranya, dapat dipastikan bakal muncul kekecewaan bahkan luka yang dalam bagi yang tidak diajak bersanding. Toh, bagaimanapun tetap harus ada yang dipilih.

Jujur harus kita akui, nama Jokowi memang masih menjadi ‘jaminan mutu’ di negeri ini. Berbagai hasil survei lembaga jejak pendapat – dari mulai yang pro, netral hingga berseberangan– masih menempatkan lelaki asal Solo itu di tempat teratas dari sejumlah nama yang dijadikan sampel sebagai lawan tandingnya pada Pilpres 2019 mendatang. Pun, nama Prabowo Subianto, ‘bigboss’ Partai Gerindra, mengutip hasil jajak pendapat, angkanya masih mengekor di belakang Jokowi.

Partai berlambang Garuda memang telah membaiat mantan Danjen Kopassus bintang tiga ini untuk kembali turun ke kurusetra pada kontestasi pemimpin bangsa tahun depan. Tak jauh berbeda dengan Jokowi, tarik-menarik juga terjadi di lingkar Prabowo. Sejumlah partai pendukung, menginginkan orang-orang pilihan mereka sebagai sekondan sang jenderal.

Bahkan, ada partai yang menyatakan‘pisah ranjang’ jika kader atau orang pilihannya tak diakomodasi kubu Prabowo.

Kita melihat dari rumitnya pilihan-pilihan yang harus diambil baik oleh Jokowi dan Prabowo, menjadikan kontestasi musyawarah akbar bangsa ini tahun depan, bakal seru. Seru bukan karena nama Jokowi, Prabowo atau sosok lain yang bakal berlaga dalam perhelatan akbar tersebut. Tapi, karena tingginya ambisi pihak-pihak di luar itu yang berusaha ‘memaksakan’ keinginannya menjadi orang pilihan.

Dan, kita meyakini dalam tiga bulan ke depan menjelang dibukanya pendaftaran calon presiden calon wakil presiden, tarik-menarik ‘orang kedua’ bakal semakin memanas. Jadi, sejatinya, pertarungan real yang terjadi saat ini justru mencari‘orang kedua’ --yang memiliki efek besar untuk memasuki palagan kurusetra yang sebenarnya tahun depan. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help