Menggugat Car Free Day di Bundaran Besar

Bebas Asap Kendaraan, Bundaran Besar Malah Dikuasai Asap Berbau Sate

Lokasi tersebut dulunya bukan hanya sebagai tempat olahraga tapi juya sebagai tempat rekreasi, khususnya pada malam minggu

Bebas Asap Kendaraan, Bundaran Besar Malah Dikuasai Asap Berbau Sate
faturahman
Pedagang memadati lokasi Car Free Day Bundaran Besar Palangkaraya. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Konsep lokasi awal hingga Kawasan Bundaran Besar dijadikan sebagai tempat olahraga tersebut, karena di lokasi bundaran tersebut merupakan titik tengah Kota Palangkaraya, Kalteng.

Lokasi tersebut dulunya bukan hanya sebagai tempat olahraga tapi juya sebagai tempat rekreasi, khususnya pada malam minggu, namun karena banyak warga yang memang suka berolahraga di kawasan bundaran tersebut,l.

Terutama pagi di hari minggu membuat pemerintah Kota Palangkaraya, kemudian menjadikan lokasi tersebut sebagai lokasi bebas asap kenaraan dan khusus untuk lokasi olahraga pagi hari, minggu.

Baca: 5 Fakta Maria Jawara Indonesian Idol 2018, Pernah Masuk 5 Besar Ajang Bergengsi Ini, Simak Videonya

Baca: Layaknya Pasar Kumuh, Pengunjung Terus Membludak Jalan Menghilang, Lalu untuk Olahraga?

Baca: Aktris Cantik Hollywood Ditangkap Atas Dugaan Kejahatan Seksual, Begini Modusnya

Bundaran Besar Palangkaraya, lokasi Car Free Day.
Bundaran Besar Palangkaraya, lokasi Car Free Day. (faturahman)

Setelah ditetapkan sebagai lokasi car free day (CFD ) warga yang datang ke lokasi tersebut tampak semakin banyak dan terus bertambah sehingga lokasi tersebut terutama hari minggu sangat padat, hingga saat ini, jalan penuh buian hanya oleh orang juga pedagang.

"Jangankan untuk olahraga lari, jalan pun sudah susah, saking banyaknya orang, apalagi saat ini pedagang kaki lima semakin banyak yang nongkrong ditempat tersebut untuk menjajakan barang maupun makanan dan minuman yang dijual,"ujar Erfina, warga Jalan Muda Karya, Palangkaraya, Minggu (23/4/2018).

Para pedagang makanan dan minuman yang awalnya sedikit, saat ini semakin banyak yang menggelar dagangannya, sehingga trotoar jalanan bukan lagi milik pejalan kaki tapi milik pedagang kaki lima yang seenaknya mengambil tempat.

Terlebih pedagang makanan, seperti pedagang sate mereka membuat kawasan itu penuh asap berbau sate. Padahal kawasan itu dijadikan lokasi bebas asap.

"Bundaran memang sudah tidak cocok jadi tempat olahraga, karena pedagang yang berjualan sudah mendominasi menguasai tempat bermain dan berolahraga, harusnya ditata lebih baik lagi," ujarnya. (www.banjarmasinpost.co.id/faturahman)

Penulis: Ernawati
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved