Opini Publik

Emansipasi yang Berubah Arah

Jangan sampai ide Kartini yang baik justru diboncengi oleh budaya asing dan tidak bermoral

Emansipasi yang Berubah Arah
Raden Ajeng Kartini 

Oleh: DR Hj Rahmida Erliyani SH MH

Dosen Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat

Memasuki hari Kartini 21 April bagaikan hari-hari rutin yang terulang setiap tahunnya. Datang dan pergi tiada meninggalkan kesan. Padahal jasa seorang pedobrak patut diingat untuk terus diperbaharui agar ide-ide dasar seorang Kartini berdinamika dan terus hidup dengan pemikiran dan pola budaya masyarakat kita. Jangan sampai ide Kartini yang baik justru diboncengi oleh budaya asing dan tidak bermoral atau dipelenter seperti yang dicita-citakan sejak semula oleh seorang Kartini.

Mengingat kembali perjalanan kehidupan kaum Kartini sejak Kartini dilahirkan sampai hari ini memang jauh memiliki kemajuan. Sudah banyak kaum Kartini yang berpendidikan menjalankan profesi selain ibu rumah tangga di luar rumah dengan berbagai pekerjaan atau profesi bahkan jauh melebihi kaum adam yaitu menjadi pemimpin, seperti gubernur, bupati dan wali kota. Oleh golongan kaum tuha kita dianggap masih merupakan masalah yang kontraversi. Memang kaum wanita tidak perlu disejajarkan dengan kaum pria. Banyak perempuan yang merendahkan pria, banyak perempuan bekerja yang mulai menginjak atau memandang rendah pria.

Melihat perjuangan kaum Kartini dalam wujud emansipasi wanita ini dalam pandangan saya sudah kebablasan. Ada diantara kaum Kartini walaupun hanya segelintir tidak menempatkan kehidupan keluarga dan karir dalam keadaan yang seimbang. Dikorbankan kehidupan sebuah keluarga seperti punya suami dan anak hanya untuk mengejar karir atau pekerjaan. Maka kodratnya sebagai wanita ditinggalkannya. Ini jauh dari yang diinginkan oleh bunda kita Kartini puteri sejati. Sebagai manusia normal seorang Kartini kodratnya adalah seorang wanita yang memiliki naluri untuk berkeluarga bersama suami dan anak-anak. Kehidupan yang normal sesuai dengan ajaran Islam dan agama-agama lain di Indonesia. Untuk pekerjaan atau profesi apapun hanyalah sebagai pelengkap dalam kehidupan bukan yang utama. Oleh karena itu sebagai sebuah pelengkap tidak boleh mengorbankan yang utama. Dalam Undang-Undang Perkawinan kita setiap kita memang menghendaki hidup yang bahagia dan kehidupan yang bahagia itu hanya mungkin dengan membentuk sebuah keluarga dengan melalui suatu perkawinan.

Emansipasi wanita dalam waktu akhir-akhir ini sudah mulai kelewatan atau salah arah. Gambaran sederhana dapat dilihat dari maraknya perceraian dalam sebuah perkawinan. Umumnya perceraian itu senjata laki-laki. Tapi anehnya jumlah terbesar perceraian yang terjadi di pengadilan agama diberbagai tempat di tanah air kita atas dasar keinginan atau gugat cerai kaum Kartini terhadap suaminya. Apakah salah dalam menentukan pilihan pasangan hidup yang berkualitas, yang dilanjutkan dengan suatu perkawinan yang sah untuk membentuk keluarga yang bahagia. Atau perkawinan hanya sebuah terminal dalam kehidupan, sebagai tempat persinggahan sementara setelah itu lanjut kembali. Sehingga tidak jarang suatu perkawinan yang dibangun dengan susah payah menjadi berpisah di tengah jalan karena perselisihan yang tak kunjung selesai dalam berumah tangga.

Dari sisi wanita yang berkeluarga banyak diantara mereka yang setiap hari keluar dari rumahnya, meninggalkan bayinya sendiri tak terurus atau paling banter menyewa baby sitter. Mereka inilah orang-orang yang terlena oleh ide-ide emansipasi yang didengungkan oleh Kartini tetapi berlebihan. Apa mentang-mentang derajatnya diangkat oleh ibu kita Kartini lantas laki-laki mau mereka langkahi ?

Sekarang yang perlu kita lakukan evaluasi ulang adalah apakah sekarang ini sudah benar arah emansipasi yang dicita-citakan oleh RA Kartini.

Perhatikan misalnya Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Dari surat Kartini ini arahnya jelas adalah agar pelaksanaan kewajiban seorang wanita menjadi lebih baik atau berkualitas dengan diikutkan mengecap pendidikan. Bukan untuk bersenang-senang dan melalaikan kewajibanya sebagai seorang wanita.

Namun jika dihubungkan dengan keadaan wanita saat ini kebanyakan dari masyarakat salah dalam memaknai emansipasi wanita yang dimaksudkan Kartini. Emansipasi sekarang sebagian kelewat batas. Sampai-sampai kebebasan yang didapat digunakan untuk menciderai laki-laki dengan menjadikan laki-laki sebagai kuli seperti yang sering di tayangkan di film-film Indonesia.

Surat Kartini lain yang menarik berbunyi, ”Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya (door duisternis Tot Licht). Namun cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya: Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902).

Seorang Kartini jelas seorang wanita yang mengikuti ajaran Islam sehingga emansipasi wanita yang dimaksudnya adalah sesuai dengan syariat islam. Dalam Islam wanita ditempatkan sesuai dengan kodratnya. Jika dalam hal ini wanita yang kodratnya sebagai seorang ibu haruslah mempunyai kemampuan dalam mendidik anak, dalam sebuah keluarga melalui sebuah perkawinan. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved