Tajuk

Tak Perlu Baper pada Melemahnya Rupiah

Sejumlah pihak, termasuk pemerintah, menyebut ekternal sebagai pemicunya. Yakni, membaiknya kondisi ekonomi di Amerika

Tak Perlu Baper pada Melemahnya Rupiah
tribun jabar
Petugas teller melayani penukaran mata uang dolar AS dengan rupiah di Bank Mutiara. 

DALAM beberapa hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika (AS) sempat mencemaskan. Bukan soal persentase pelemahannya, tapi pada angkanya yang nyaris beberapa kali mendekati angka psikis, Rp 14.000 per 1 USD.

Sejumlah pihak, termasuk pemerintah, menyebut ekternal sebagai pemicunya. Yakni, membaiknya kondisi ekonomi di Amerika, memicu pulang uang Paman Sam dari sejumlah negara berkembang. Dan (tentu saja), masuknya uang asing ke ‘rumah’ Trump.

Bila faktor perkiasannya AS ini menjadi penyebab utama, bisa disebut jumlah uang di Indonesia yang kabur ke Amerika, tidaklah sebanyak sejumlah negara lain di Asia Tenggara.

Berdasarkan data, sepanjang April 2018, rupiah hanya melemah 0,90 persen. Bandingkan dengan baht Thailand yang melemah sekitar 1 persen, rupee India loyo sekitar 2 persen, dan ringgit Malaysia anjlok 2,8 persen, bahkan lira Turki melemah 3,3 persen.

Berdasarakan data ini, kubu optimistis pun tidak terlalu resah pada tren nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan. Mereka menyebut, struktur ekonomi dalam negeri cukup kokoh sehingga termasuk tahan terhadap serangan keperkasaan dollar.

Kubu ini juga meyakini bahwa Bank Indonesia bisa melakukan upaya-upaya intervensi secara rasional sehingga pelemahan rupiah tidak sampai menembus angka psikis Rp 14.000 per dollar AS.

Sedangkan kubu pesimistis, selalu berusaha menyalakan alarm secara keras terhadap situasi rupiah yang sedang berlangsung. Mereka menyebut, (antara lain) pelemahan ini karena pondasi ekonomi dalam negeri tidak stabil, mulai ada gejolak politik jelang Pilkada serentak dan hiruk pikuk pencapresan-pencawapresan.

Celakanya, ada sedikit orang di kubu ini yang mencoba membuat garis hubung yang absurd antara perkara non-ekonomi yang sama sekali tak terkait dengan pelemahan rupiah dengan situasi belakangan ini.

Ya, data situasi riil dalam negeri yang membuat loyo rupiah memang seharusnya diungkap ke publik. Analisa-analisa terhadap situasi kali ini memang harus dikabarkan. Dengan begitu, pelaku ekonomi (bahkan kita yang awam) di dalam negeri bisa melakukan upaya-upaya mengantisipasi pelemehan ini secara rasional.

Namun begitu, tidaklah perlu mempoles data tersebut sehingga makin molek atau melipatgandakan kekencangan suaranya, sehingga berdampak pada anjloknya kepercayaan publik terhadap rupiah.

Upaya-upaya semacam itu hanya akan membuat pelaku ekonomi dalam negeri makin panik; Para investor akan bersiap mengepak uangnya dan menerbangkankannya ke luar negeri; Dan sebagainya.

Karena itu, dalam situasi sebagaimana saat ini seharusnyalah semua kubu (optimistis atau pesmistis) menyatukan visi, yakni; Menjaga warga bangsa agar tidak ‘baper’ juga tidak membuat semua orang panik.

Jadi, janganlah ‘baper’ pada pelemahan rupiah kali ini. Tetaplah rasional sehingga kita semua (pada perannya masing-masing) tetap bisa melakukan upaya-upaya rasional menjaga marwah rupiah. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved