Fikrah

Kejujuran di Negeriku

Katanya, “Di negeri kita yang dipentingkan adalah kepintaran seseorang bukan moral integritas.

Kejujuran di Negeriku
Kaltrabu
KH Husin Naparin 

Oleh: KH HUSIN NAPARIN

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

Penulis nimbrung tulisan Fachrur Rozy, dosen dan pemerhati masalah sosial, berjudul “Inteligensi Versus Moralitas” yang terbit di halaman Tribun Forum Banjarmasin Post edisi, Kamis (22 Maret 2018).

Katanya, “Di negeri kita yang dipentingkan adalah kepintaran seseorang bukan moral integritas. Namun, yang dimaksudkan kepintaranpun adalah kepintaran yang berkonotasi buruk, bukan kepintaran yang berkonotasi baik.
Contoh, ada mahasiswa S3 yang desertasinya adalah plagiat dari karya ilmiah orang lain. Ia pintar menghemat energinya untuk menulis desertasinya. Ia pintar memanfaatkan sistem kontrol yang lemah, sehingga sampai ia lulus kepalsuan desertasinya tidak terungkap. Ada dosen yang tanpa rasa malu mengopi tulisan buku orang lain dan mencantumkan namanya sebagai penulis buku itu.

Berapa banyak kepala daerah dari gubernur hingga wow, anggota DPR, DPRD I, DPRD II yang tertangkap tangan oleh KPK -menerima suap. Namun, berapa banyak pula gubernur, bupati/wali kota, yang anggota DPR, DPRD yang masih bernasib baik, belum tertangkap tangan oleh KPK?

Beberapa tahun yang lalu seorang anak SMP di Surabaya mengungkapkan percontekan dalam ujian nasional, namun yang dibully adalah anak jujur yang tidak terlibat dalam pecontekan tersebut. Anak tersebut dimusuhi oleh teman-temannya, guru-gurunya, karena mengungkapkan keaiban kita di bidang moral.

Mengapa orang bisa berbuat tidak jujur? Wanita Indonesia yang dikisahkan oleh beliau di dalam tulisan itu, berhasil study di Perancis beranggapan boleh-boleh saja berbuat tidak jujur karena miskin.

Penulis teringat hadis Nabi SAW, kaadal-faqru ayyakuuna kufran, artinya, “Nyaris kefakiran (kemiskinan) itu menyeret (seseorang) kepada kekafiran.” Orang fakir (miskin) bisa ditolerensi jika terpaksa; dibolehkan mencuri jika tidak ada jalan lain untuk makan, seperti halnya dibolehkan memakan bangkai, jika tidak ada lagi makanan lain, namun sekedar keperluan, “darurat” istilahnya.

Khalifah Umar bin Khattab pernah tidak memotong tangan seorang pencuri, karena mencuri sekadar untuk makan. Yang sangat tercela adalah tidak jujur untuk menumpuk harta duniawi yang banyak, tamak istilahnya. Allah SWT menyindir, alhaakumut-takatsur, hattaa zurtumul-maqaabir, artinya, “Kalian lupa karena ingin bermegah-megah (mendapatkan sesuatu yang banyak), hingga kalian masuk liang kubur.” (QS At-takatsur 1-2).

Nafsu serakah menumpuk harta duniawi telah mendorong seseorang berbuat tidak jujur. Perbuatan tidak jujur disebut menipu dan pelakunya disebut penipu. Ibu-ibu yang berbelanja di pasar/di toko sering mengeluh karena tertipu; Kurangnya ukuran kain yang dibeli sekian centimeter, kurangnya timbangan sekian ons, tidak sesuainya mutu barang yang di pesan.

Pada tingkat yang lebih besar, ada orang yang kehilangan lahan persawahan dan kebun karena diserobot tetangga, bahkan kehilangan lahan perumahan kendati bersertifikat. Penulis sering diminta bantuan dana sumbangan untuk pembangunan masjid/rumah yatim, dengan surat permohonan yang meyakinkan, tetapi ternyata bohong.

Banyak lakon lainnya, memohon pinjaman dana, antara lain, istri opname melahirkan di rumah sakit kekurangan darah, kepepet membayar sewa rumah, aliran istrik terancam dicabut, kehilangan dompet di perjalanan, bahkan ada yang mengaku habib, serban melilit di kepala, jubah rapi dan hidung mancung, memperkenalkan diri dengan menyebutkan serentetan nama yang menyakinkan, bahwa ia keturunan Rasulullah; setelah diberi pinjaman tidak ada yang pernah mengembalikan padahal waktu yang dijanjikan sudah habis.

Aku tertipu, tetapi alhamdulillah aku tidak jatuh miskin dan aku yakin sang penipu tidak menjadi orang kaya.

Penipuan, kezaliman dan yang semisalnya sebagai realisasi ketidakjujuran, suatu saat akan terbongkar di pengadilan Tuhan, dimana padang mahsyar terbentang dan terang-benderang dengan keadilan Tuhan. Buku catatan amal masing-masing manusia dibuka, didatangkan para nabi dan saksi-saksi, diputuskan dengan adil, siapa yang memakan hak orang lain harus mengembalikan kepada pemiliknya (QS Az-Zumar 69-70). (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help