Opini Publik

Impor Dosen Asing dan Disorientasi Pendidikan Tinggi

Tiap langkah dan kebijakan dalam negeri merupakan kepanjangan tangan dari kepentingan asing.

Impor Dosen Asing dan Disorientasi Pendidikan Tinggi
Cetak BPost
Moh Yamin 

OLEH: MOH YAMIN

Dosen Universitas Lambung Mangkurat (ULM), penulis buku-buku pendidikan

DALAM bukunya berjudul Telikungan Kapitalisme Global dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia, Hasyim Wahid (1999) jauh-jauh hari telah mengatakan republik ini berada dalam kekuasaan global.

Tiap langkah dan kebijakan dalam negeri merupakan kepanjangan tangan dari kepentingan asing. Apa yang kemudian dirisaukan Hasyim Wahid, jika kemudian diamati secara nyata di depan mata memang benar apa adanya (baca: realitas).

Terkini, wacana pemerintah melalui Kemristekdikti di bawah nakhoda M Nasir, akan melakukan impor dosen asing di universitas dalam negeri. Ini merupakan salah satu bentuk nyata dimana republik ini sedang makin berada dalam telingkungan kepentingan asing (baca: Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Asing).

Publik pun bereaksi keras atas kemunculan wacana tersebut. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Yang setuju mengatakan bahwa ini bagian dari upaya mendongkrak kualitas pendidikan tinggi, sementara yang menyebut tidak setuju mengatakan bahwa ini bagian dari upaya menghancurkan bangsa ini.

Gelombang reaksi penolakan justru sangat kuat sebab ketika sebuah perguruan tinggi dipenuhi oleh orang asing, maka yang terjadi adalah arah pendidikan tinggi pun akan disesuaikan dengan kepentingan dosen asing.
Orang Asing pun tentu memiliki kepentingan terhadap pendidikan tinggi yang dijalankannya. Yang terjadi selanjutnya adalah seharusnya pendidikan tinggi harus sesuai dan disesuaikan dengan budaya nasional sebagai kekuatan identitas dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara; ajaran dan mata kuliah yang harus dipelajari para mahasiswa harus lah mampu merefleksikan identitas nasional; dan begitu seterusnya, hal tersebut sepertinya tidak akan mungkin dijalankan secara konkret.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kehadiran dosen asing masuk ke perguruan tinggi dalam negeri akan melahirkan generasi muda Indonesia yang memiliki identitas nasionalisme dan kemudian mampu membangun semangat kebangsaan dalam menjalankan kemanusiaan-keindonesiaan?

Sepertinya, hal tersebut ibarat menegakkan benang basah.

Diakui maupun tidak, ini adalah sebuah keniscayaan tak terbantahkan. Sebut saja, ketika sang dosen asing menjalankan dan mungkin termasuk terlibat dalam menyusun kurikulum yang akan dijalankan, maka yang dibangun kemudian bukanlah berdasarkan kepada kebudayaan dan identitas kebangsaan, namun prinsip yang dijalankan berdasar pada penguatan kompetensi skill dan semangat persaingan untuk menuju kemenangan.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved