Menguak Pernikahan Dini Warga Rampa

Terungkap! 70 Persen Pernikahan di Desa Ini Berusia Dini, Taufik: Gaya Hidup dan Kebanggaan

Hanya saja pernikahan usia dini diera sekarang lebih meningkat, hingga mencapai 70 persen

Terungkap! 70 Persen Pernikahan di Desa Ini Berusia Dini, Taufik: Gaya Hidup dan Kebanggaan
internet
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Pernikahan diusia dini seolah menjadi tradisi warga Desa Rampa, Kecamatan Pulaulaut Utara, Kabupaten Kotabaru. Hajatan itu bukan hanya terjadi diera sekarang (tahun 2000an ke atas), tapi sudah ada sejak masa lampau.

Hanya saja pernikahan usia dini diera sekarang lebih meningkat, hingga mencapai 70 persen dari jumlah penduduk desa Rampa yang berjumlah lebih kurang 7.000 jiwa.

"Tidak ada data pastinya. Tapi di sini anak menikah di usia dini sekitar 70 persenan," kata Taufik Ketua RT 6, desa Rampa.

Baca: Disaat Pernikahan Dini Jadi Lifestyle Warga Desa Rampa, Mengejutkan Usia Anak yang Dinikahkan

Baca: Dituding Poligami saat Istri Mengandung Anak Kembar, Ini Kata Ustad Solmed, April:

Taufik tidak menepis tingginya angka pernikahan anak berusia di bawah umur (di bawah 15 tahun), karena selain didorong gaya hidup (kebanggaan) tersendiri.

Baca: Wow! Roy Kiyoshi Buat Gebrakan Baru yang Tak Kalah Menyeramkannya dari Karma! Apa Ya?

Baca: Ngaku Punya Duit Triliunan, Pengusaha Keturunan Turki Nekat Tantang Jokowi dan Prabowo di Pilpres

Taufik Ketua RT 6, desa Rampa
Taufik Ketua RT 6, desa Rampa (helriansyah)

Namun faktor ekonomi dan kekhawatiran keluarga, juga salah satu menjadi pemicu.

"Dan, ketika orangtua menganggap anaknya sudah dewasa dan bisa mandiri lalu dinikahkan," katanya.

Sebagai Ketua RT yang juga seorang tokoh masyarakat, Taufik selain prihatin. Namun bingung, karena hingga kini belum ada upaya menekan angka pernikahan dini.

"Memang harusnya selain orangtua, juga harus ada peran pihak desa. Misalnya dalam pembuatan surat pengatar untuk menikah. Di bawah 15 tahun jangan," harapnya.

Sayangnya, salah satu upaya pencegahan itu tidak dilakukan. Kecuali hanya surat pengatar membuat surat keterangan tidak mampu (SKTM) dan pengantar membuat KTP.

"Surat pengantar menikah tidak pernah ada," tandasnya.

(BANJARMASINPOST.co.id/helriansyah)

Penulis: Herliansyah
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved