Berita Kotabaru

Sebagian Nelayan Mulai Jual Alat Tangkap, Bantuan Diberikan Pemerintah Pusat Tidak Bisa Digunakan

Lambannya respon dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kotabaru mengenai beberapa alat tangkap bantuan pemerintah pusat

Sebagian Nelayan Mulai Jual Alat Tangkap, Bantuan Diberikan Pemerintah Pusat Tidak Bisa Digunakan
banjarmasinpost.co.id/herliansyah
Suherman salah seorang nelayan sedang memperbaiki alat tangkap Lampara Dasar yang rusak 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Lambannya respon dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kotabaru mengenai beberapa alat tangkap bantuan pemerintah pusat yang tidak bisa dimanfaatkan mulai memantik reaksi sebagian nelayan di Desa Rampa, Kecamatan Pulaulaut Utara Kotabaru.

Sebagian dari ratusan nelayan menerima bantuan, mulai menjual alat tangkap tersebut lantaran tidak bisa mereka gunakan untuk melaut karena alat tangkap jenis jaring (gilnet) tidak sesuai spesifikasi perahu.

Meski masih ada sebagian alat tangkap belum mereka jual, tapi karena tidak bisa dimanfaatkan alat tangkap tersebut hanya dibiarkan ditaruh di depan rumah tanpa ditutup untuk melindungi sinar matahari dan hujan.

Baca: Akun Bonek Ini Kabarkan Kondisi 30 Penumpang Paska Kapal Terbakar

Taufik salah seorang nelayan ketika ditemui, kepada banjarmasinpost.co.id, Minggu (29/4/2018) mengakui kalau sebagian besar nelayan sudah ada yang mennjual alat tangkap tersebut.

Menurut Taufik yang juga ketua rukun tetangga (RT), alasan sebagian nelayan terpaksa menjual alat tangkap karena sejak dibagikan pada diakhir 2017 lalu tidak mereka gunakan.

"Kalau yang jenis gondrong (tremmel net) masih digunakan," jelas Taufik kepada banjarmasinpost.co.id.

Kecuali jenis gilnet, sebagian nelayan terpaksa menjual kepada nelayan lain dan sesuai dengam spesifikasi perahu.

"Dari pada tidal terpakai. Alat tangkap yang dijual uangnya digunakan lagi membeli alat tangkap jenis gondrong," jelas Taufik.

Baca: Diduga Kandas di Batulicin, Tim SAR Telusuri Kapal Terbakar yang Angkut 25 Bonek

Halaman
12
Penulis: Herliansyah
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help