Bulan Berdarah Tiga Nyawa Melayang

Ini Kajian Psikis Untuk Para Pembunuh Berdarah Dingin di Banjarbaru, Belum Tergolong Psikopat?

Dari identifikasi faktor-faktor risiko maka pemberdayaan keluarga merupakan salah satu yang penting untuk diintervensi.

Ini Kajian Psikis Untuk Para Pembunuh Berdarah Dingin di Banjarbaru, Belum Tergolong Psikopat?
istimewa
Abdus Salim, tersangka pembunuh Mulin Nikmah 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Budaya dengan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah bahkan hingga melakukan pembunuhan secara keji membuat prihatin dengan kondisi yang sering terjadi di sekitar.

Hal itu disampaikan Psikolog Klinis Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Sukma Noor Akbar kepada Reporter Banjarmasinpost.co.id Minggu (29/4).

"Mudahnya seseorang dalam menghilangkan nyawa orang lain atau melakukan tindakan kriminal adalah suatu perilaku yang sebenarnya bisa kita antisipasi sejak dini," katanya.

Dia mengatakan secara umum kenapa terjadinya kriminalitas pada individu, pengaruh yang paling besar adalah pelaku kekerasan biasanya berasal dari rumah atau lingkungan yang tidak harmonis, anak-anak yang terlantar, sosial ekonomi rendah dan kurangnya kontrol dari orangtua dapat membuat anak rentan sebagai pelaku kekerasan.

Baca: Sadis Para Pelaku Bulan Berdarah di Banjarbaru Beraksi Habisi Target Pakai Sajam

Dia juga mengatakan traumatik dan pernah menjadi korban dalam kekerasan bisa menjadi anak menangkap perilaku yang keliru dari yang dilihatnya dengan cara meniru, baik meniru dengan melihat langsung maupun dari media-media lainnya.

Anak belajar dari mengamati, hal yang paling alamiah adalah adalah belajar dari orang disekitarnya serta informasi yang didapat dari lingkungannya. Cara pandang yang tidak tepat dianggap anak benar sehingga kekerasan-kerasan tetap dipertahankannya sebagai suatu perilaku.

Apalagi pada masa remaja anak sudah mulai membentuk kelompok, jika anak tanpa pengawasan maka masa pencarian identitas dirinya bisa tidak sesuai dengan norma-norma, jika ia bergaul dengan orang yg melakukan kekerasan maka ia cenderung untuk mengikuti perilaku tersebut.

Lanjut dia, Faktor pendidikan, kepribadian, harga diri, kurang mampunya seseorang dalam mencari pemecahan masalah menjadi faktor risiko lain yang juga perlu dilihat dalam menentukan motif-motif pelaku.

Baca: Ini Ternyata Sang Eksekutor Tewasnya Rezky di Simpang Empat, Bepergian Selaku Berbekal Sajam

"Gangguan-gangguan psikologi seringkali dikaitkan dengan kriminal seperti psikotik, antisosial dan gangguan-gangguan kepribadian, namun tentunya perlu kajian dari psikolog ataupun psikiater dalam melakukan diagnosisnya," katanya.

Dari identifikasi faktor-faktor risiko maka pemberdayaan keluarga merupakan salah satu yang penting untuk diintervensi. Meningkatnya fungsi keluarga, fungsi komunikasi akan membuat anak menjadi lebih dihargai sebagai keluarga yang utuh.

"Belum bisa dikatakan psikopat sebab harus pemeriksaan ahli terlebih dahulu," katanya. (banjarmasinpost.co.id/niakurniawan)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved