Tajuk

Langkah Menuju Perdamaian

SEMPAT waswas dengan ‘kegilaannya’ yang hobi melakukan percobaan senjata nuklir, dunia dikejutkan dengan langkah Kim Jong-un

Langkah Menuju Perdamaian
via KOMPAS.com
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri), dan Presiden Korea Selatan Moon Jae In ketika melintasi garis pembatas militer dan kemudian menuju ke Rumah Perdamaian, lokasi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Antar-Korea di Panmunjom, Jumat (27/4/2018).(AFP/Korea Summit Press Pool) 

SEMPAT waswas dengan ‘kegilaannya’ yang hobi melakukan percobaan senjata nuklir, dunia dikejutkan dengan langkah Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un ke Korea Selatan.

Ya langkah kaki yang sebenarnya telah dilakukan Kim dengan menyeberangi perbatasan kedua negara untuk bertemu Presiden Korea Selatan Moon Jae-in.

Pertemuan pun berlanjut dengan Konferensi Tingkat Tinggi Korea Utara-Korea Selatan di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang membawa sejumlah kabar positif bagi perdamaian kawasan Semenanjung Korea, Jumat (27/4/2018). Dua negara yang sudah terlibat konflik selama 65 tahun, akhirnya duduk bersama menyepakati deklarasi damai.
Foto kedua pemimpin ini pun menghiasi berbagai media massa, karena nilai sejarah dan sebuah kejutan yang ada di dalamnya.

Pertemuan ini tentunya disambut hangat sejumlah negara. Selain potensi perang kedua negara yang bisa membawa dunia pada kehancuran, karena nuklir yang dimiliki Korea Utara, kesepakatan tersebut juga menjadi puncak dari serangkaian upaya mendudukan kedua negara ke meja perundingan yang sekian kali gagal.

Tercatat sejak 1972 Korea Selatan dan Korea Utara sudah setuju akan melakukan perdamaian tanpa ada campur tangan dari negara lain, dilanjutkan upaya perdamaian tahun 2000, tetapi proses diplomasi tersebut tidak juga membuahkan hasil.

Bahkan tercatat sejumlah insiden muncul pascagencatan senjata, termasuk insiden Laut Kuning pada 2003 dan Maret 2010, di mana Korea Utara menenggelamkan kapal perang Cheonan Korea Selatan di dekat perbatasan laut.
Berlangsung sejak 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953, Perang Korea memang menyimpan banyak kenangan pahit sejarah sekaligus menandai perang ideologi yang terus berlangsung hingga abad 21. Karena itu pula banyak juga warga Korea, baik di Selatan maupun Utara yang masih menungu-nunggu langkah nyata dari kesepakatan tersebut.

Karena di tengah berbagai optimisme, masyarakat juga harus menyadari bahwa kondisi saat ini adalah satu langkah awal menuju perdamaian. Terlalu prematur bila disebut sebagai kesepakatan damai, karena masih ada langkah lain yang harus dilakukan seperti penghentian program nuklir Korea Utara, terbukanya hubungan transportasi langsung antara kedua Korea, dan baru ke langkah selanjutnya yaitu reunifikasi.

Selama ini bagi rakyat kedua negara, reunifikasilah yang menjadi harapan nyata bagi mereka. Tapi menuju satu Korea jelas bukan langkah mudah. Kondisi yang melatarbelakangi tak sesederhana runtuhnya tembok Berlin yang memisahkan Jerman Timur dan Jerman Barat pada 1989.

Bahkan di Korea Selatan sendiri muncul aksi demo yang menolak perjanjian tersebut. Hal ini tentu aneh. Tapi inilah kenyataannya, karena Korea Utara memang seringkali mengingkari apa yang telah dijanjikan. Bagi warga Korea Selatan yang tidak setuju, perjanjian ini lebih pada motif Korut yang membutuhkan uang. Kondisi ekonomi Korut yang harus menerima sanksi ekonomi karena program nuklir, memang membuat mereka terpuruk.

Kini ditunggu langkah nyata dari hasil Deklarasi Panmunjom. Kim Jong-un menjadi aktor utama yang ditunggu-tunggu kiprahnya untuk mewujudkan perdamaian yang abadi di Korea. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help