Opini Publik

Demokrasi dan Gerakan Mahasiswa di Era Digital

Terlepas dari persoalan ini, sudah saatnya ini menjadi renungan bahwa mahasiswa adalah satu-satunya kekuatan ekstraparlementer

Demokrasi dan Gerakan Mahasiswa di Era Digital
net
Mahasiswa saat demo di Gedung DPR mendesak Presiden Soeharto mundur pada 1998 lalu. 

Oleh: Muhammad Fauzan: Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (Konsentrasi Politik) Fisip ULM Banjarmasin

TAK bisa dipungkiri, sejarah runtuhnya rezim otoriter yang memoles di Indonesia adalah buah dari kerja keras dan ikhtiar dari gerakan mahasiswa yang mendorong lahirnya rezim yang lebih demokratis. Namun, seiring perjalanan waktu, kini gerakan mahasiswa mulai kehilangan arah. Ada tuntutan akademik yang lebih dominan mereka tunaikan daripada mengawal agenda-agenda permasalahan rakyat. Boleh dikatakan, gerakan mahasiswa begitu senyap dan kadang terjebak dalam permainan politik para elite. Eksistensinya hanya dimanfaatkan sebagai daya pukul kepentingan politik tertentu ketimbang membawa agenda politik kerakyatan.

Terlepas dari persoalan ini, sudah saatnya ini menjadi renungan bahwa mahasiswa adalah satu-satunya kekuatan ekstraparlementer yang perlu muncul ke permukaan dikala kondisi bangsa yang nyaris karam. Apakah harus turun ke jalan? Itu mungkin salah satu ikhtiar tapi agar tidak terus bergerak tanpa narasi yang jelas sudah saatnya mahasiswa mampu membangun sebuah gerakan mahasiswa berbasis riset dan mampu mewujudkan arah gerakan yang baru.

Secara umum, ada tiga tren gerakan yang patut menjadi perhatian gerakan mahasiswa kekinian. Pertama, tren model gerakan intelektualitas. Sebagai kaum yang memiliki kecerdasan dan ketajaman menganalisa suatu persoalan sudah saatnya kiblat pergerakan mahasiswa saat ini berbasis riset dan kajian-kajian ilmiah karena salah satu wujud dari tridharma perguruan tinggi adalah pendidikan dan penelitian.

Kedua, tren model gerakan jamaah atau pengkaderan. Bukan sebuah gerakan kalau tidak mampu melakukan proses pengkaderan sebab untuk melakukan suatu perubahan diperlukan kerja-kerja berjamaah sebagaimana firman Allah SWT dalam QS As-Shaff ayat 4, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Tren terakhir, ketiga, adalah tren atau model gerakan mahasiswa kewirausahaan. Tak bisa dipungkiri, cukup banyak aktivis dan gerakan mahasiswa yang mengorbankan bahkan menjual idealismenya karena mengalami penyakit kanker (kantong kering). Sudah saatnya, dengan kedua modal tren di atas gerakan mahasiswa harus memikirkan kondisi finansialnya dengan model pemberdayaan wirausaha. Cukup banyak peluang yang bisa diambil dengan memanfaatkan kecerdasan intelektual dan pengkaderan, itu adalah modal awal yang kemudian akan mengantarkan gerakan mahasiswa menjadi gerakan yang benar-benar memiliki positioning bargaining yang cukup tinggi namun bukan untuk “diperjualbelikan”.

Berdasarkan tiga tren di atas, saya sebagai mahasiswa tertarik untuk membicarakan tentang gerakan berbasis riset mengingat ujung dari perkuliahan atau salah satu syarat mahasiswa agar lulus menjadi sarjana adalah meneliti dan menuliskan hasil penelitiannya yang sering kita sebuat tugas akhir atau skripsi. Kerap para aktivis gerakan karena sibuk dengan organisasinya sampai terlambat menuntaskan skripsinya, konsekuensi logisnya tidak lulus tepat pada waktunya atau bahkan DO.

Ini yang terkadang membuat miris, bagaimana seorang aktivis gerakan yang selalu mengkritisi upaya zalim rezim terhadap rakyatnya tapi tidak disiplin terhadap dirinya. Nah, jika mahasiswa atau aktivis gerakan mahasiswa menyadari bahwa disipilin ilmunya pada jurusan tertentu itu merupakan bentuk kompetensi atau kemampuannya ke depan. Sudah saatnya, mahasiswa melakukan riset dari kompetensinya dan riset itu wujudnya bisa saja berupa kontribusi pemikiran dan gagasan mahasiswa terhadap satu fenomena permasalahan sosial. Misal saja, mahasiswa di jurusan pendidikan, nah risetlah tentang kebijakan-kebijakan pendidikan yang zalim dan mencederai rakyat. Tentu sambil meriset sambil bergerak. Sehingga tugas akhirnya atau risetnya menjadi bermanfaat.

Di era digital saat ini sepertinya sangat mudah melakukan aksi-aksi kontrol sosial. Ada banyak contoh isu atau permasalahan yang terangkat di era digital ini dengan akun-akun media sosial yang dimiliki. Di era digital ini memang ada sisi negatif dan positifnya. Sisi positif yang bisa diambil gerakan mahasiswa jika sepakat dengan gerakan mahasiswa berbasis riset tadi bisa dimanfaatkan untuk melakukan gerakan-gerakan yang melibatkan banyak pihak dalam melakukan daya kontrol sosialnya.

Artinya, di tengah arus demokrasi yang sedemikian panjang, gerakan mahasiswa harus mengambil peran-peran positif di era digital seperti saat ini. Tidak sulit bagi mahasiswa untuk melakukan gerakan dan menguatkan daya kontrolnya kepada pemerintah. Semua orang bisa mendapatkan informasi dengan cepat dan mudah. Semoga gerakan mahasiswa menyadari hal ini. Hidup mahasiswa! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved