Tajuk

May Day Mayday

Memang tidak bisa dipungkiri, aksi kekerasan, perusakan dan kerusuhan kerap terjadi pada saat May Day.

May Day Mayday
Surya
Ribuan buruh yang berasal dari sejumlah serikat buruh saat menuju pusat kota Surabaya untuk menggelar aksi memperingati Hari Buruh, Selasa (1/5). Dalam aksinya mereka menyeruhkan sejumlah tuntutan, salah satunya menolak TKA di Jawa Timur. 

PERINGATAN Hari Buruh atau May Day di Indonesia pada Selasa, 1 Mei 2018, memberikan banyak kesan. Kesan pertama, peringatan ini digambarkan sebagai horor. Jauh-jauh hari pemerintah terutama kepolisian mengingatkan agar para buruh yang turun aksi ke jalan tidak melakukan tindak kekerasan, membuat kerusakan dan kerusuhan.

Memang tidak bisa dipungkiri, aksi kekerasan, perusakan dan kerusuhan kerap terjadi pada saat May Day. Demikian pula pada peringatan dua hari lalu di Yogyakarta.

Namun apakah itu dilakukan oleh para buruh, polisi masih melakukan penyelidikan.

Memang terasa aneh melihat buruh di Yogyakarta mengamuk. Pertama, orang Yogyakarta terkenal halus lembut. Selain itu Yogyakarta lebih dikenal sebagai kota pelajar dan pariwisata, bukan industri.

Kesan lainnya adalah peringatan kali ini bernuansa politis. Ini karena May Day berdekatan dengan tahun politik 2019. Sejumlah politikus ikut turun bahkan tampil untuk menunjukkan diri mereka proburuh. Nuansa tersebut semakin terlihat jelas saat ada pengurus organisasi buruh mendukung seorang calon presiden.

Buruh terkesan tidak lagi fokus memperjuangkan diri sendiri agar menjadi lebih sejahtera dan bermartabat.
Padahal masih banyak persoalan yang dihadapi kaum buruh sebelum memperjuangkan kesejahteraan orang lain.

Masalah tenaga kerja lepas atau outsourcing hingga kini tak diselesaikan pemerintah. Tuntutan penghapusan sistem kontrak tak pernah dipenuhi pemerintah. Kini ditambah lagi isu tenaga kerja dari Cina yang merambah hingga ke pekerjaan-pekerjaan kasar.

Tidak fokusnya buruh memperjuangkan nasib juga terlihat di Kalsel. Dalam aksinya di Banjarmasin, salah satu pengurus organisasi buruh mengeluhkan kerap penuhnya kamar opname di rumah sakit kota ini.

Memang tidak salah mengeluhkan persoalan ini karena buruh juga adalah peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Namun sepertinya keluhan itu terlalu kecil untuk disampaikan pada Hari Buruh. Seperti juga di daerah lain, buruh di Kalsel masih menghadapi masalah outsourcing, masalah buruh Cina seperti yang ada di Kabupaten Tabalong dan sistem pengupahan.

Memang terjadi perubahan aksi buruh di Kalsel 10-20 tahun terakhir. Dulu banyak buruh turun ke jalan di Banjarmasin pada saat May Day. Ini karena saat itu masih banyak industri perkayuan di daerah ini. Mereka bahkan kerap turun ke jalan untuk memprotes dan mengadukan keputusan perusahaannya.

Namun seiring runtuhnya industri perkayuan, para buruh pun seolah menghilang. Sedangkan para karyawan yang bekerja di pertokoan dan industri lain tak berani dan mampu bergerak menyuarakan nasib mereka. Tak terkecuali para pekerja di industri media massa.

Kondisi buruh memang mengarah pada kondisi bahaya jika tidak diperjuangkan. May Day bisa berubah menjadi Mayday yang merupakan istilah tanda bahaya.

Oleh karena buruh harus makin solid memperjuangkan haknya tanpa mengabaikan iklim investasi. Bila perlu bentuk partai buruh seperti yang ada di banyak negara dan dijalankan oleh para buruh agar tidak ditunggangi. Selamat Hari Buruh. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help