Wisata Pandulangan Intan Cempaka

Rezeki Nomplok Pegangsar Intan Dapat Intan Seharga Rp 500 Juta, Begini Sistem Bagi Hasilnya

Dari kedua sistem solong dan sedot ini hasil didapat tidak jauh berbeda, tergantung rezeki dari sang pencipta.

Rezeki Nomplok Pegangsar Intan Dapat Intan Seharga Rp 500 Juta, Begini Sistem Bagi Hasilnya
banjarmasinpost.co.id/salmah
Pendulang sedang melinggang untuk memisahkan tanah dan pasir hasil galian 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Pendulangan sistem lama adalah sistem melubang atau seperti sumur. Kedalamannya tergantung kondisi tanah yang dianggap ada intan, bisa 15 meter bahkan 25 meter.

Di dinding lubang tadi kemudian ada terowongan atau istilahnya solongan. Dari solongan ini keberuntungan dicari, apakah benar ada intan atau nihil.

Sementara sistem sekarang dengan mesin sedot dan menara penyaring. Dari kedua sistem ini hasil didapat tidak jauh berbeda, tergantung rezeki dari sang pencipta.

Dijelaskan Syarkawi, pemandu wisata pendulangan, setiap dapat intan dan dijual maka sudah ada ketentuan bagi hasilnya.

Baca: Wisata Pandulangan Intan di Lokasi Penemuan Intan Trisakti Cempaka, Beruntung Bisa Lihat Ini

"Misal terjual Rp10 juta maka uangnya dibagi 10 persen untuk pemilik tanah, 10 persen untuk jaga malam, limbah air dan lainnya. Sisa Rp8 juta dibagi dua lagi, Rp4 juta untuk pemilik mesin dan Rp4 juta bagi pekerja," jelasnya.

Jika pekerja dalam satu kelompok 10 orang maka jika dibagi rata pembagian didapat Rp 400 ribu per orang.

Menguntungkan adalah pegangsar, pendulang perorangan ini jika dapat intan maka pembagiannya hanya 10 persen untuk pemilik tanah dan sisanya 90 persen untuknya pribadi.

"Jika pegangsar dapat intan dan menjual Rp10 juta. Maja 10 persen atau Rp1 juta untuk pemilik tanah dan 90 persen atau Rp 9 juta milik si pegangsar," paparnya.

Baca: Mitos si Galuh, Gadis Alam Gaib Penabur Intan dan Sejumlah Pantangan di Pendulangan Intan

Malah pernah ada pegangsar yang dapat rezeki nomplok. Hasil dulangannya mendapatkan intan yang cukup bernilai. Tidak main-main harga jualnya Rp 500 juta alias setengah miliar.

Selain pegangsar, pelaku usaha di luar kelompok pendulang adalah pemasiran atau orang yang menjual pasir. Bisa juga si pegangsar ya sekaligus adalah pemasiran.

Para pendulang sedang melinggang untuk memisahkan tanah dan pasir dari intan atau emas.
Para pendulang sedang melinggang untuk memisahkan tanah dan pasir dari intan atau emas. (banjarmasinpost.co.id/salmah)

Pemasiran mengumpulkan pasir dan batu koral bekas dulangan. Kedua material bangunan itu dikumpulkan dan ditumpuk di tepi jalan untuk dijual. Biasanya sopir truk bahan bangunan yang membeli.

Masih ada lagi pelaku usaha di kawasan pendulangan, yaitu penjual batu cincin dan intan yang kerap dicari para wisatawan.

Bagaimana kisah para penjual batu cincin dan intan ini, mari kita simak kisahnya dalam lanjutan tulisan ini. (banjarmasinpost.co.id/dea)

Penulis: Salmah
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved