Nestapa Kampung Mentaya Seberang

Kisah Kampung Mentaya Seberang, Tak Punya Akses Darat ke Pusat Kota, Cikal Bakal Lahirnya Sampit

Kawasan permukiman Mentaya Seberang Sampit , disebut-sebut sebagai lokasi pertama cikal-bakal beridirinya Kota Sampit atau

Kisah Kampung Mentaya Seberang, Tak Punya Akses Darat ke Pusat Kota,  Cikal Bakal Lahirnya Sampit
Faturahman
Feri penyeberangan ini merupakan alat penghubung yang banyak dipakai warga Mentaya Seberang ke Sampit.(faturahman) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, SAMPIT - Kawasan permukiman Mentaya Seberang Sampit , disebut-sebut sebagai lokasi pertama cikal-bakal berdirinya Kota Sampit atau yang lebih akrab disebut sebagai Kota Mentaya, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Posisi Mentaya Seberang yang berada di seberang Sungai Mentaya atau seberang Kota Sampit menjadikan kawasan permukiman di lokasi ini sejak awal dihuni oleh warga sejak puluhan tahun hingga saat ini tak terperhatikan pemerintah setempat.

Perkembangan pernukiman dan pembangunan perkantoran di kota Sampit yang kini sudah meluas ke arah Sampit- Pangkalanbun, Kotawaringin Barat dan arah ke Palangkaraya membuat Mentaya Seberang semakin tertinggal.

Baca: Hasil Juventus Vs Bologna : Menit 63 Sami Khedira Membalik Keadaan untuk Kemenangan Si Nyonya Tua

Baca: Hasil Lengkap Kualifikasi MotoGP Sirkuit Jerez : Pebalap Honda Ini Berjaya, Duo Yamaha Tercecer

Kawasan ini bisa dikatakan terisolasi, karena tidak ada jalan darat atau jembatan penyeberangan yang tembus yang menghubungkan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang atau Baamang Sampit dengan Desa Mentaya Seberang.

Mentaya Seberang terdapat dua kecamatan dan 32 desa yang saling terhubung, namun posisi Mentaya seberang belum terkoneksi dengan dua kecamatan di Sampit, sehingga untuk bepergian ke Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) atau ASN warga setempat untuk ngantor di Kantor Bupati harus naik kapal feri penyeberangan.

"Untuk sekali menyeberang kami setiap hari harus menyiapkan dana Rp5000 rupiah, sekaligus membawa sepeda motor, tetapi biasanya antre panjang, sehingga kadang-kadang motor dinaikkan ke kelotok dengan membayar lebih mahal Rp20 ribu sekali menyeberang," ujar Budi Wahyudi, salah seorang warga Mentaya Sebarang, Sabtu (5/5/2018). (banjarmasinpost.co.id/faturahman)

teks

Penulis: Fathurahman
Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved