Jendela

Ironi Karya Akademis

Para akademisi yang menulis buku sebagai hasil penelitian tentu berharap bukunya dibaca, di-review, dan dikutip orang

Ironi Karya Akademis
BANJARMASINPOST.co.id/edi nugroho
Prof Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman, Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

“Copy right means right to copy,” kata seorang teman bercanda. Maksudnya, hak cipta sama dengan hak untuk memfotokopi. Kalimat itu terungkap saat kami berbincang tentang harga buku akademik dalam bahasa Inggris yang sangat mahal sehingga orang lebih suka memfotokopi ketimbang membeli.

Para akademisi yang menulis buku sebagai hasil penelitian tentu berharap bukunya dibaca, di-review, dan dikutip orang. Menulis karya ilmiah jelas merupakan pekerjaan yang amat berat. Apalagi jika ingin menembus penerbit ternama kelas dunia.

Proses yang harus dilalui cukup panjang dan rumit, mulai dari pertimbangan penerbit, lalu review dua orang ahli, perbaikan-perbaikan hingga penyuntingan akhir.

Ketika buku itu terbit, sang penulis tentu sangat bahagia. Ia ibarat bayi yang telah lama dinanti-nantikan. Dia akan segera mengumumkan ke teman-temannya bahwa bukunya sudah terbit.

Dia berharap mereka mau membeli, membaca dan menulis review di jurnal-jurnal akademik terkemuka. Namun kadang yang terjadi justru sebaliknya. Buku itu tak dibeli dan tak dibaca. Hanya tergeletak di perpustakaan belaka!

Hal serupa juga bisa terjadi pada artikel yang ditulis di jurnal akademik internasional yang terindeks Scopus atau Thomson. Sudah tentu tidak mudah menembus jurnal semacam itu. Proses penerbitannya juga panjang.

Mitra bestari dan editor yang menilai artikel kita biasanya meminta perbaikan-perbaikan yang seringkali memakan banyak waktu. Namun setelah terbit, belum tentu dibaca dan dikutip orang.

Akan tetapi, para akademisi tetap bangga dengan karya-karya yang diterbitkan oleh penerbit atau jurnal internasional bereputasi tinggi itu. Meskipun hanya sedikit orang yang membaca dan mengutip, karya itu dapat menjadi modal simbolik baginya. Karya itu memberinya `sertifikasi’ sebagai akademisi yang diakui keahliannya oleh kalangan akademisi lainnya. Dia sudah tergolong ilmuwan di tingkat dunia.

Adapun di Indonesia, kurang lebih dua dasawarsa terakhir, banyak dosen yang terobsesi menerbitkan artikel di jurnal terindeks Scopus atau Thomson semata-mata untuk memenuhi syarat menjadi profesor.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved