Jendela

Ironi Karya Akademis

Para akademisi yang menulis buku sebagai hasil penelitian tentu berharap bukunya dibaca, di-review, dan dikutip orang

Ironi Karya Akademis
BANJARMASINPOST.co.id/edi nugroho
Prof Mujiburrahman 

Hal yang diimpikan terutama adalah tunjangan kehormatan dan mungkin pula gengsi. Gara-gara ingin jadi profesor, tak sedikit orang yang ditipu oleh jurnal abal-abal yang meminta bayaran ratusan dolar.

Sudah maklum, si pemburu jabatan profesor semacam itu tidaklah berharap bahwa karyanya akan dibaca dan dikutip orang. Baginya, yang penting diangkat menjadi profesor dan menerima tunjangan kehormatan. Kalau ada kesempatan, gelar profesor itu berguna pula untuk menduduki jabatan birokrasi di kampus. Perkara karyanya tak disentuh dan berdebu di rak-rak perpustakaan, dia tak peduli.

Demikianlah ironi karya ilmiah para akademisi. Idealnya, menulis itu untuk dibaca. Tulisan yang terbit di penerbit bergengsi atau jurnal terindeks dunia tentu diasumsikan akan dibaca orang karena telah memiliki reputasi.

Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak faktor yang membuat sebuah tulisan dibaca atau tidak. Topik tulisan, penyebarannya dan reputasi pengarangnya turut menentukan.

Tantangan makin berat karena kita hidup pada masa ketika informasi tersedia berlimpah ruah bagaikan airbah. Era digital tidak hanya memberikan tetapi juga menyimpan informasi yang jumlahnya nyaris tak terbatas.
Di sisi lain, kecepatan ritme hidup membuat orang lebih suka informasi yang singkat dan instan. Akibatnya, karya ilmiah yang serius dan panjang hanya akan dibaca oleh segelintir orang.

Sebagian orang menganjurkan agar para akademisi mau menulis di media massa agar pikiran dan hasil-hasil penelitiannya dapat diketahui oleh masyarakat luas. Ini tentu sebuah tantangan yang tidak ringan.

Menulis di media massa menuntut kecakapan dan kriteria tersendiri pula. Misalnya, panjang tulisan sangat dibatasi, topik yang diangkat harus aktual dan bahasa yang digunakan harus sederhana.

Alhasil, idealnya seorang akademisi menulis buku, artikel jurnal dan artikel di media massa yang tidak hanya dibaca oleh para akademisi tetapi juga oleh publik. Jika tidak bisa, minimal akademisi menulis buku atau artikel jurnal yang dibaca oleh sesama akademisi. Yang paling minimal, dia menulis artikel di media massa. Jika yang terakhir ini pun tak bisa, saya kira dia sudah tak layak menjadi akademisi! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved