Tajuk

Kalajengking

(Mungkin) itu sebabnya mengapa Jokowi sengaja menyuarakan soal kehebatan dan potensi hewan beruas kaki delapan (oktopoda) dalam perhelatan

Kalajengking
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

SEMUA orang di negeri ini mengetahui kalau Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah penyuka musik cadas. Selain Metalica, mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta ini juga penyuka kelompok musik rock asal Jerman, Scorpion.

(Mungkin) itu sebabnya mengapa Jokowi sengaja menyuarakan soal kehebatan dan potensi hewan beruas kaki delapan (oktopoda) dalam perhelatan resmi, Musrenbang, di Jakarta, pekan lalu. Dan, memang tidak ada yang salah apa yang disampaikan Jokowi bahwa serangga bernama keren Scorpiones ini memiliki potensi besar secara ekonomi. Betapa tidak, Jokowi mengumbar bahwa harga racun dari serangga itu per liternya mencapai 10,5 juta dolar AS atau setara Rp 145 miliar. Dengan kata lain, harga racun kalajengking jauh lebih mahal ketimbang emas.

Terlepas dari berbagai komentar pro dan kontra apa yang disampaikan Jokowi, secara ilmiah, kandungan racun yang dihasilkan kalajengking memang memiliki potensi luar biasa. Kata seorang peneliti serangga dari Institut Teknologi Bandung, racun si kalajengking menghasilkan obat dalam dunia kedokteran yang digunakan sebagai terapi kanker.

Mengapa tubegi mahal cairan maut milik si kalajengking? Karena memang rata-rata kalajengking menghasilkan sedikit racun. Satu ekor kalajengking hanya punya cairan di bawah 1 mg. Bahkan kalajengking ukuran besar, hanya menghasilkan 0,5 mg venom. Sementara untuk 1 liter berarti 1000 mg. Selain itu, untuk mncari si scorpion ini begitu sulit, berbeda mencari racun ular, dimana hewan ini relatif mudah ditemukan.

Tapi, persoalannya bukan potensi ekonomis luar biasa dari cairan serangga mematikan itu yang kini ramai dipersoalkan para elite politik di negeri ini. Para vokalis dari kelompok sebelah menyuarakan kenyinyiran persoalan kalajengking yang disampaikan Jokowi pada perhelatan resmi Musrenbang dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019 tersebut.

Tidak sedikit yang menilai Jokowi bicara ‘ngelatur’ yang tidak pantas disampaikan soal kalajengking dalam forum yang semestinya membahas program kinerja pemerintah tahun depan. Harus diakui, persoalan serangga ini pun semakin menjadi lain warna ceritanya ketika ditarik-tarik ke koridor politik. Dan, memang, itu yang selama sepekan terakhir menjadi topik renyah bagi para ‘vokalis’ politik saat ini.

Sejatinya, jika kita mencermati dengan pikiran yang jernih, apa yang disampaikan Jokowi itu tidak lain sengaja untuk menstimulan para kepala daerah agar memanfaatkan sumberdaya alam yang dimiliki di masing-masing wilayah. Itu kalau memang para pemangku wilayah memiliki kepekaan ekonomi yang tinggi. Kita tidak ingin apa yang disampaikan presiden hanya dianggap sebagai sekadar bicara normatif yang tidak punya makna apa-apa.

Jujur memang harus dikatakan sulit mengamini apa yang disampaikan Jokowi itu adalah solusi paten dalam mengatasi persoalan perekonomian negeri ini. Namun kita tetap melihat bahwa ada sebuah (harapan) potensi yang sebenarnya bisa menjadi sumber ekonomi yang luar biasa di masa datang. Jadi, sekali lagi harus dilihat bahwa momentum itu harus ditangkap oleh para pengampu wilayah di negeri ini bahwa ada potensi luar biasa yang bisa digali dan diberdayakan untuk mengembangkan perekonomian di daerah --yang tidak hanya bersandar pada komoditas-komoditas yang sudah ada. Saatnya kita semua anak negeri menangkap sebuah harapan baru dengan cara pandang yang jujur, dan tidak lagi melihatnya dengan kacamata minus. Dan, rasanya tidak salah kalau Jokowi bicara tentang hewan kalajengking, karena dia sendiri memang penggemar fanatik Scorpion! Listening to the wind of change. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help