Berita Hulu Sungai Tengah

Pemuda Ini Mengabdikan Hidupnya Sendirian Membina 300 Santri di Pegunungan Meratus, Begini Kisahnya

USIANYA baru 21 tahun. Kasim, remaja asal Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, ini berbeda dengan remaja pada umumnya.

Pemuda Ini Mengabdikan Hidupnya Sendirian Membina 300 Santri di Pegunungan Meratus, Begini Kisahnya
BPost Cetak

Satunya lagi, kamar tidur Kasim dan istrinya.

“Jika hujan turun, tak jarang air hujan merembes dari bilik dinding bambu. Anak-anakpun terpaksa tidur basah-basahan,” tutur Kasim, yang disapa santrinya ustadz Kasim, ditemui BPost, Rabu (3/5) lalu.

Baca: Jawaban Nagita Slavina Tentang Perceraian dengan Raffi Ahmad Sambil Menghela Nafas Harus Dijalanin

Kamar tidur santri, tak memiliki kasur dan bantal.

Mereka hanya beralas lantai dan sedikit karpet.

“Tanpa hujan pun udara dingin senantiasa menyelimuti kami, karena pondok ini letaknya dekat sekali dengan pegunungan. Sedangkan kami sebagai pengelola,belum mampu membelikan selimut,” kata Kasim yang membangun pondok Alquran Arraudah sejak 2015 silam.

Kasim menuturkan, ada sekitar 30 orang tinggal di pondok tersebut.
Sisanya, adalah santri warga sekitar yang tak menginap yang rutin datang mengikuti kegiatan belajar Alquran dan salat lima waktu.

Total santri dari Desa Tilahan ditambah anak-anak yang tinggal di pondok ada 100 orang.

Sedangkan santri dari desa lainya, di Desa Kundan, Haruyan Dayak ada 200-an sehingga totalnya 300 santri.

Terdiri perempuan dan laki-laki, mulai usia kelas satu SD sampai SMP.

Halaman
1234
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved