Kasus Pelecehan Seksual Remaja

Kasus Pencabulan Belasan Bocah SD di Kotabaru Ini yang Paling Mengejutkan Banyak Pihak

SEBULAN terakhir, kasus pencabulan dan persetubuhan yang dilakukan anak di bawah umur mengejutkan semua pihak.

Kasus Pencabulan Belasan Bocah SD di Kotabaru Ini yang Paling Mengejutkan Banyak Pihak
BPost Cetak
bpost

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - SEBULAN terakhir, kasus pencabulan dan persetubuhan yang dilakukan anak di bawah umur mengejutkan semua pihak.

Mulai kasus pencabulan terhadap anak berusia 12 tahun hingga persetubuhan pelajar SMA.

Kasus pencabulan anak di bawah umur oleh pelaku dewasa terjadi di Kotabaru dengan jumlah korban belasan bocah yang masih dududk di sekolah dasar (SD).

Rurien, Kadinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kotabaru, tak menampik tingginya kasus kekerasan dan pencabulan dalam beberapa waktu terakhir di wilayahnya.

Baca: Para Pelajar SMA Itu Hanya Dihukum Satu Tahun, Penasihat Hukum Langsung Terima Putusan Hakim

Dia menyebut, kasus pencabulan belasan orang bocah yang terjadi di Desa Sungai Pasir, Kecamatan Pulaulaut Tengah beberapa waktu lalu yang sempat menghebohkan masyarakat di Kotabaru.

Mengantisipasi kembali terjadinya kasus seperti itu, pihaknya melakukan langkah antisipasi, jemput bola, terlebih saat adanya laporan.

"Kalau ada unsur pidana, penanganannya di kepolisian,” ujarnya.

Baca: Muncul Nama Budi Gunawan dan Syafruddin untuk Cawapres Jokowi, Bagaimana dengan Jenderal Tito?

Ke depan, sebut Rurien, upaya antisipasi yakni berencana membangunkan fasilitas berupa pusat pembelajaran keluarga (Puspaga).

Dia berujar, fasilitas tersebut untuk memberikan kesibukan terhadap anak.

“Itu adalah salah satu cara mengantisipasi kekerasan dan terjadinya kasus pencabulan terhadap anak.”

Baca: Yuliast Mochamad Tuding Putri Opick Sengaja Mempublish Chat Pribadi, Begini Jawaban Menohok Ghaniya

Kata Rurien, dengan membuat kesibukan anak, sehingga mereka tidak terkonsentrasi pada gawai (handphone) yang bisa mendorong ke pemikiran negatif terhadap anak.

Indikator terjadinya kasus kekerasan dan pencabulan juga dipicu persoalan ekonomi.

Dia mencontohkan anak ditinggal sendiri di rumah karena orangtuanya kerja, sehingga terjadi pemerkosaan.

"Korban sering diiming-iming diberikan sesuatu," ujarnya.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved