Home »

Kolom

» Tajuk

TAJUK

PTS Setia Menunggu

Saat ini setidaknya ada tiga jalur masuk perguruan tinggi negeri, yakni SNMPTN, SBMPTN dan jalur Mandiri.

PTS Setia Menunggu
Isti Rohayanti
Try out SBMPTN yang diadakan oleh Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Fakultas Kedokteran ULM. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - MASUK perguruan tinggi negeri kini ada beragam jalurnya, tidak seperti masa lalu hanya dua jalur, PMDK dan UMPTN atau Sipenmaru. Saat ini setidaknya ada 3 jalur masuk perguruan tinggi negeri, yakni seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan jalur Mandiri.

Pengumuman hasil seleksi SNMPTN telah dilakukan pada 17 April 2018 lalu. SNMPTN hampir mirip dengan PMDK di era dulu, yakni menyaring siswa yang memiliki nilai akademik bagus langsung dari sekolah.

Adapun saat ini masih berlangsung ujian tertulis dan ujian keterampilan SBMPTN, 8 sampai 11 Mei 2018. Sedangkan pengumuman hasil tes pada 3 Juli 2018. SBMPTN dulu serupa dengan UMPTN atau lebih lama lagi bernama Sipenmaru, meskipun aturan teknisnya tentu saja berbeda.

Jika dua jalur itu calon mahasiswa lolos alias tidak lulus tes, masih ada jalur Mandiri, yang seleksinya dilakukan secara mandiri pula oleh masing-masing perguruan tinggi negeri. Namun, untuk jalur mandiri, dana yang dikeluarkan calon mahasiswa lebih besar, termasuk biaya pendidikan yang disetor ke kampus, lebih banyak ketimbang lewat jalur SNMPTN atau SBMPTN.

Begitu mudahnya kebijakan masuk perguruan tinggi negeri ini seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi menguntungkan pengelola perguruan tinggi negeri (PTN). Namun, di sisi lain, berdampak negatif bagi perguruan tinggi swasta (PTS). Ibarat kata, PTN membuka pintu yang selebarnya untuk ribuan bahkan puluhan ribu calon mahasiswa. Jadi, bagi PTS, tinggal sisa-sisanya saja lagi yang tertampung.

Tak bisa dinafikan, selama ini PTS menjadi bemper PTN dalam membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Bagi mereka yang kurang beruntung ikut seleksi masuk PTN, PTS siap menampung. Memang, tak bisa dipungkiri, menjadi lulusan PTN terlihat lebih mentereng ketimbang lulusan PTS. Tapi, jangan salah, cukup banyak PTS yang masuk di kalangan eliter perguruan tinggi di Indonesia, tak kalah dari PTN.

Misalnya Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Binus, Universitas Trisakti dan masih banyak lainnya. Di Kalsel pun ada STEI Indonesia Banjarmasin yang masuk dalam jajaran 100 perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia.

Artinya, pemerintah atau Kemenritek Dikti jangan sampai abai pada PTS. Label PTS atau PTN hanya sebatas siapa pengelola. Bukan pada tataran pengkotak-kotakan. PTS atau PTN sama-sama bisa bersaing, tentu dengan kualitas PTS dan PTN yang setara pula. Lulusan PTS maupun PTN pun bisa bersaing di dunia kerja yang merupakan dunia praktis. Kebanyakan bukan teori di perguruan tinggi yang dipakai, melainkan kemauan, keuletan dan kegigihan serta cepat dalam menjalankan alur kerja di tempat pekerjaannya. Untuk hal seperti itu, indikatornya bukan PTN atau PTS.

Jadi, bagi calon mahasiswa yang tidak lulus SBMPTN lalu untuk masuk jalur mandiri keuangan orangtua tidak memadai, jangan takut tidak kuliah. Masih ada PTS tempat untuk belajar, bersosialisasi dan menempa diri sebelum terjun ke dunia kerja. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help