Ekonomi dan Bisnis

Strategi Meraih 'Cuan' saat Pasar Saham Tertekan, Syaratnya Jangan Panik

Seperti diketahui, strategi perdagangan di bursa saham yaitu beli saat harga rendah dan jual ketika harga sedang naik.

Strategi Meraih 'Cuan' saat Pasar Saham Tertekan, Syaratnya Jangan Panik
kompas.com
Karyawan melintas di samping layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (13/3/2017). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berguguran. Dari posisi 6.000 lebih di awal tahun, kini dalam waktu sebulan indeks terkoreksi cukup dalam, mendekati 5.500. Kondisi ini tentu membuat stres dan tegang para investor pasar saham.

Seperti diketahui, strategi perdagangan di bursa saham yaitu beli saat harga rendah dan jual ketika harga sedang naik. Teori itu berlaku ketika pasar sedang normal. Namun bagaimana ketika pasar sedang turun seperti sekarang, apakah harus tetap menunggu sampai keadaan membaik, atau harus cut lost. Atau perlu menerapkan strategi lain.

Direktur Utama PT Reliance Sekuritas Tbk (RELI), Anita, menyampaikan, volatilitas merupakan hal yang wajar dalam berinvestasi.

Baca: Tak Kunjung Dilantik Raja Malaysia sebagai Perdana Menteri, Begini Reaksi Mahathir

"Bagi para risk taker, ketika indeks turun tajam, justru momen tepat untuk kembali mengoleksi saham-saham pilihan, blue chips yang mengalami koreksi dalam," ujar Anita, kepada media, Kamis (10/5/2018).

Untuk itu, strategi investasi di tengah koreksi indeks yang dalam, investor harus berani masuk karena harga saham cenderung lebih murah. Tapi harus selektif pada saham-saham unggulan alias blue chip yang menyediakan likuiditas tinggi.

Yang pasti, dalam situasi apapun, investor jangan pernah panik. Pasalnya, ketika market mulai pulih kebanyakan investor sering kehilangan kejadian penting tersebut. Akibatnya para investor biasa menjual sahamnya terlalu cepat. Padahal, kejadian-kejadian tersebut terkadang hanya berlangsung sesaat.

"Jika investor panik, justru tindakan investasinya nanti jadi tidak rasional, rugi sedikit langsung jual," ucap Anita.

Baca: Rupiah Melemah, Semen Baturaja Pertama Kali Ekspor Semen Setengah Jadi ke Australia

Pasar boleh saja terkoreksi dalam, namun bagi mereka yang memiliki prinsip investasi jangka panjang, selalu meraih cuan karena koreksi selalu diikuti dengan kenaikan dalam rentang jangka panjang.

Keuntungan investasi jangka panjang ditemukan dalam hubungan antara volatilitas dan waktu. Jangan lupa, investasi jangka panjang juga bisa menghemat biaya lainnya, seperti biaya transaksi dari perdagangan aktif.

Tentu saja, saat kondisi bursa memerah, disarankan untuk melakukan diversifikasi investasi. Investasi yang lebih berisiko bisa mulai dialihkan seperti ke obligasi atau pasar uang.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help