Berita Hulu Sungai Tengah

Duh! 40 Pohon Mahoni Peninggalan Belanda di Barabai Dibiarkan Lapuk, Dinas LH: Belum Ada Dana!

“Menurut kami, jika tak ingin menebang karena dianggap masih berpotensi masih bisa hidup dan berdaun rindang lagi"

Duh! 40 Pohon Mahoni Peninggalan Belanda di Barabai Dibiarkan Lapuk, Dinas LH: Belum Ada Dana!
Hanani
Pohon di sekitar lapangan Dwiwarna Barabai, yang sudah lapuk dan tak berdaun lagi, sehingga mengurangi keasrian ruang terbuka hijau di HST tersebut. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Kondisi pohon mahoni di Kota Barabai, Hulu Sungai Tengah kian memprihatinkan. Terutama di sekeliling lapangan Dwi Warna, sejumlah pohon yag dulunya hijau dan rindang, kini tinggal dahan-dahan lapuk di bagian puncak hingga ranting-rantingnya. Pohon berusia ratusan tahun semasa penjajahan Belanda itu pun terlihat “hidup segan mati tak mau”.

“Menurut kami, jika tak ingin menebang karena dianggap masih berpotensi masih bisa hidup dan berdaun rindang lagi, sebaiknya dipangkas saja. Daripada dibiarkan seperti itu, membahayakan pengendara yang lewat dan membahayakan pengunjung taman di sekitar lapangan,”ungkap Yuliana, warga Barabai, yang tiap Minggu pagi jogging di sekitar ruang terbuka hijau tersebut.

Lapuknya pohon-pohon di sekeliling Dwiwarna maupun di sejumlah ruas jalan di Kota Barabai, kata dia berpotensi menimbulkan kecelakaan. JIka pohon lapuk tersebut diterpa angkin kencang, atau memang sudah sangat rapuh, tanpa anginpun sewaktu-waktu dahannya bisa patah. “Semoga saja pihak yang berwenang di Pemkab HST bisa segera membersihkannya,”katanya lagi.

Mengenai lapuknya pohon mahoni yang selama ini menjadi icon kota Barabai sebagi Bandung Van Borneonya Kalsel, Pengawas Pertamanan DInas Perhubungan dan Lingkungan Hidup HST, Supono, yang dikonfirmasi Jumat (11/5/2018) mengakui belum melakukan pembersihan dahan dan ranting-rantingnya.

“Memang ada beberapa yang sudah miring, adapula yang hanya lapuk di bagian dahan-dahannya. Mungkin nanti harus dipilah-pilah, mana yang harus ditebang sampai ke pohon, ada yang bisa dipertahankan untuk dipangkas bagian dahannya saja,”kata Supono. Berdasarkan hasil pendataan, kata Supono, ada 40 pohon yang kondisinya harus dibersihkan, dengan cara pemangkasan atau penebangan.

Pohon tersebut terbanyak di sekitar lapangan Dwiwarna, termasuk di sekitar kediaman Ketua DPRD HST. Selebihnya, di Jalan PH M Noor dan Jalan Perwira, serta Jalan Ganesya Barabai. Salah satu pohon di Jalan Kartini, malah sudah tumbang sat terjadi hujan deras. Beruntug saat itu tak ada korban jiwa maupun harta benda.

Supono mengakui pemangkasan memang harus segera dilaksanakan. Masalahnya, saat ini, pihaknya terkendala dana. Anggaran pembersihan pohon untuk 2018, hanya Rp 15 juta. Sementara, jasa memangkas ataupun menebang pohon, antara Rp 1 juta sampai Rp 2 juta per pohon. ‘Kami sudah menanyakan ke tukang pangkas pohon, mereka menolak jika kurang dari Rp 1 juta. Sebab, tak hanya memangkas, tapi juga membersihkan kayunya,”jelasnya.

Dinas Perhubungan dan LH memiliki lift sky, atau tangga yang digerakkan mesin dengan mobil khusus, yang dibeli dengan dana lebih Rp 1 miliar. Namun, tangga tersebut jelas Supono tinggi maksimalnya 12 meter, dan biasanya digunakan untuk memangkas ranting kecil.

“Kalau memangkas dahan-dahannya, atau pohonnya, tetap butuh tenag professional, karena memangkas dahan apalagi di atas, tak mungkin menggunakan parang biasa. Harua memakai mesin chainsaw. Itupun harus tau teknisnya biar aman,”katanya. Sopumo menargetkan, paling lambat setelah lebarab idul fitri nanti, pohon-pohon tersebut sudah dibersihkan.

Penanaman pohon pengganti, khusunya di sekitar lapangan dwiwarna, sudah dilaksanakan dengan menanam pohon asam jawa, yang diperkirakan bisa hidup ratusan tahun. “Jadi kalau nanti mahoninya harus di tebang, sudah ada pohon pengganti, yang kini mulai besar,”pungkasnya. (banjarmsinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help