TAJUK

Bersatu Perangi Terorisme

HANYA dalam kurun waktu lima hari, negeri ini diguncang dua kejadian menggemparkan yang menggoyang stabilitas keamanan nasional.

Bersatu Perangi Terorisme
TribunJatim.com
Kobaran api diduga dari bom bunuh diri di depan GKI Jl Diponegoro, Kota Surabaya, Minggu (13/5/2018). 

HANYA dalam kurun waktu lima hari, negeri ini diguncang dengan dua kejadian menggemparkan yang menggoyang stabilitas keamanan nasional. Selasa (8/5) lalu, rusuh penyanderaan anggota polri oleh napi rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok menewaskan 5 anggota kepolisiani. Kejadian berikutnya lebih menggemparkan lagi, ledakan bom bunuh diri di sejumlah gereja, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5) pagi kemarin.

Tak tanggung-tanggung tiga gereja dalam waktu hampir bersamaan. Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro, Gereja Santa Maria di Ngagel dan Gereja Pantekosta Jalan Arjuno.

Aksi teror terbaru ini menjadi aksi ketiga mengawali Mei ini. Setelah aksi pertama, berlanjut pada Kamis tengah malam, 10 Mei 2018, satu orang anggota satuan intelijen Brimob Bripka Marhum Prencje, tewas ditusuk pria mencurigakan di depan Rumah Sakit Brimob Kelapa Dua, Depok.

Pada Sabtu, 12 Mei 2018, polisi kembali menangkap dua orang wanita yang diduga akan melakukan aksi penusukan terhadap anggota Brimob. Keduanya ditangkap di sekitar Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Kedua perempuan itu diketahui bernama Dita Siska Millenia dan Siska Nur Azizah. Sejumlah barang bukti disita polisi, yaitu dua buah kartu tanda penduduk (KTP), dua unit Handphone, dan satu buah gunting.

Serentetan aksi teroris itu seolah mengirimkan signal eksistensi dan pergerakannya yang makin mengkhawatirkan. Dalam ledakan bom kemarin, sedikitnya 10 korban tewas dan 41 lainnya luka-luka.

Diantaranya pelaku bom bunuh diri yang dinyatakan tewas di tempat.

Aksi biadab paham radikalisme ini membuat potongan tubuh manusia berserakan di jalan. Ledakan terjadi begitu jemaat usai melalukan misa. Lebih miris lagi diduga pelakunya perempuan yang juga membawa anak-anak. Bom diletakkan di rompi dan tubuh kedua anak yang dibawa pelaku utama.

Ironis dan mengerikan, sepantasnya aksi ini dikutuk. Pergerakan paham radikal yang terlarang ini seolah tak pernah berhenti. Negeri ini benar-benar dalam ancaman sasarannya. Tak hanya menjadi tanggung jawab TNI Polri memberantas terorisme, tapi seluruh eleman bangsa ini sudah seharusnya bersatu padu mengatasinya.

Aparat lebih meningkatkan sistem kewaspadaan dini dan keamanan. Tak hanya aman saat bertugas di lingkungan institusi, namun luar jam dinas pun tetap waspada. Jangan sampai kecolongan, apalagi sampai di markas sendiri. Gennya terus menggurita dan parahnya lagi, modus serangan terorisme dilancarkan melalui pelaku usia muda, wanita bahkan melibatkan kanak-kanak. Bagaimana mendeteksi dini pergerakan teroris menjadi tantangan yang harus diatasi, khususnya bagi Badan Inteligen Nasional. Apalagi kini urusan teknologi informasi makin canggih.

Apapun alasannya, serangan terhadap tempat-tempat ibadah tak bisa dibenarkan. NKRI harga mati, seluruh elemen bangsa harus bersatu perangi terorisme. Semoga tak ada lagi aksi bom di negeri ini. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved