Seputar Kalteng

Dewan Adat Dayak Kalteng Adili Perusahaan Wilmar Group Gara-gara Ini

Kasus pengrusakan situs adat dayak berupa Sandung, Bukung, dan Sapundu, milik warga lokal di Desa Pondok Damar,

Dewan Adat Dayak Kalteng Adili Perusahaan Wilmar Group Gara-gara Ini
BANJARMASINPOST.co.id/faturahman
Sidang Adat Dayak di gelar di rumah betang Palangkaraya, Kalteng,menghadirkan Dirut PT Wilmar Group (faturahman) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Kasus pengrusakan situs adat dayak berupa Sandung, Bukung, dan Sapundu, milik warga lokal di Desa Pondok Damar, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotim, Kalimantan Tengah, berlanjut pada sidang adat yang digelar oleh Dewan Adat Dayak.

Kegiatan sidang adat Maniring Tuntang Manetes Hinting Bunu, digelar di Rumah Betang Eka Tingang Ngaderang yang juga dikenal dengan Mandala Wisata dihadiri oleh para tokoh adat dayak dan Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah, H Agustiar Sabran.

Sidang menghadapkan Dirut Wilmar Group melalui anak perusahaannya PT Mustika Sembuluh, Darwin Indigo, dan salah seorang manajernya yang duduk di kursi terdakwa dalam sidang tersebut.

Baca: Jadwal Pengumuman Awal Puasa Ramadhan 2018, Insya Allah Bersamaan, Kamis 17 Mei 2018

Baca: Serangan Bom di Polrestabes Surabaya, 4 Pengendara Motor Tewas, Anggota Polisi Juga jadi Korban

Baca: Ngeri, Begini Cara Keluarga Dita Buat Anaknya Jadi Pelaku Bom Gereja, Ini Status Terakhirnya

Ketua DAD Kalteng, H Agustiar Sabran, saat persidangan berlangsung, Senin (14/5/2018), mengatakan pihaknya menggelar sidang perdamaian adat dayak untuk mencari solusi yang sama-sama menguntungkan dalam kasus tersebut.

"Sidang perdamaian adat dayak ini, untuk memecahkan masalah yang terjadi di Desa Pondok Damar, antara warga dan petugas keamanan di Perusahaan PT Mustika Sembuluh (Wilmar Group), agar tidak berlarut-larut sehingga harus diselesaikan melalui sidang adat ini," ujarnya.

Agustiar mengatakan, dengan adanya sidang adat tersebut, maka jangan adalagi kesewenang-wenangan terhadap warga lokal, apalagi melakukan pengrusakan, yang mengancan warga lokal.

"Kita sebagai orang dayak harus jadi tuan rumah di kampung sendiri, jangan hanya jadi penonton saja," ujarnya. (banjarmasinpost.co.id/faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved