Berita Banjarbaru

Syaugi Ungkap Pola Serangan Bom di Surabaya,

"Saya kira ini menjadi keprihatinan kita bersama program deradikalisasi belum berjalan secara maksimal"

Syaugi Ungkap Pola Serangan Bom di Surabaya,
Istimewa
Kondisi area pintu masuk Polrestabes Surabaya yang mendapat serangan bom pada Senin (14/5/2018) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Aksi serangan teror di Kota Surabaya, Jawa Timur dinilai Kabid Penelitian dan Pengkajian FKPT Kalsel Dr Syaugi Mubarak Seff, MA memiliki pola baru.

"Saya kira ini menjadi keprihatinan kita bersama program deradikalisasi belum berjalan secara maksimal. Penjara yang harusnya menjadi tempat upaya deradikalisasi ternyata menjadi tempat persemaian bibit-bibit radikal para napi. Upaya memberi pemahaman kepada para napi teroris untuk mengubah mainstream pemikiran radikal mereka menjadi moderat ada yang berhasil tetapi banyak pula yang gagal. Karena itu menurut saya upaya-upaya untuk menghasilkan Islam yang moderaat dimulai dari keluarga," katanya.

Baca: Besok Selasa 15 Mei Sidang Isbat Penentuan Awal Puasa 2018, Muhammadiyah Sudah Pasti 17 Mei 2018

Baca: Jadwal Pengumuman Awal Puasa Ramadhan 2018, Insya Allah Bersamaan, Kamis 17 Mei 2018

Baca: Ngeri, Begini Cara Keluarga Dita Buat Anaknya Jadi Pelaku Bom Gereja, Ini Status Terakhirnya

Baca: Awal Puasa Ramadhan 2018 Diprediksi Rabu 16 Mei 2018 untuk Muslim di Amerika Serikat

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Antasari ini mengatakan, memang pola feminism terorisme dalam bom bunuh diri sudah ada sejak beberapa tahun lalu, sekalipun belum banyak wanita yang dijadikan sebagai penganten.

"Dengan adanya bom Surabaya ada pola baru yaitu menjadikan keluarga sampai anak-anak mereka jadi penganten. Ini pola baru saya kira, karena itu saya menyarankan pembinaan keagamaan yang moderat bermula dari keluarga di samping institusi pendidikan," kata dia kepada reporter Banjarmasinpost.co.id, Senin (14/5).

Untuk di Kalsel, Syaugi berharap semoga tidak tertular. "Semoga dengan basis ajaran tasawuf yang disemai oleh ulama-ulama Banua, faham-faham radikal mudah tidak berkembang di Kalsel.

"Yang penting bagi masyarakat harus satu kata bahwa pencegahan radikalisme dan terorisme bukan hanya tugas aparat, tetapi tugas kita bersama dan merupakan musuh bersama. Semua komponen bangsa di banua harus bahu membahu untuk memcegah terjadinya sikap dan tindakan radikalisme dan terorisme. Kita harus tetap waspada, kita jangan terbuai dengan keamanan yang sudah terjaga," katanya. (banjarmasinpost.co.id/niakurniawan)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help