Tajuk

Intelijen Harus Lebih Sigap

Teror yang dilakukan para terduga teroris tampaknya semakin mengganas. Ini, bisa kita runut dari beberapa peristiwa yang telah mengganggu

Intelijen Harus Lebih Sigap
tribun jabar
Keluarga yang melakukan bom bunuh diri. 

NEGERI kita tercinta ini sedang dilanda duka. Betapa tidak, serangkaian serangan terhadap aparat dan teror bom kepada masyarakat telah menyentak, dalam beberapa hari terakhir ini. Boleh dikatakan, kita yang tinggal di bumi pertiwi ini sedang tidak aman.

Teror yang dilakukan para terduga teroris tampaknya semakin mengganas. Ini, bisa kita runut dari beberapa peristiwa yang telah mengganggu stabilitas keamanan Indonesia, yang berakibat jatuhnya korban jiwa tidak sedikit.

Pada tajuk kali ini, Banjarmasin Post kembali mengangkat peristiwa teror tersebut. Pasalnya, kita prihatin dengan adanya teror yang tampaknya sudah tersusun rapi dan direncanakan para terduga teroris. Sementara, aparat intelijen kita seolah-olah kecolongan hingga terlambat mengantisipasi peristiwa tragis itu.

Seperti diketahui, kita sempat dikejutkan dengan insiden serangan bom di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5), yang sedikitnya menewaskan 13 orang dan melukai puluhan orang.

Hanya berselang 14 jam pascaledakan bom di tiga gereja di Surabaya, teror serupa kembali mengguncang di Provinsi Jawa Timur. Sebuah bom meledak di belakang Polsek Taman, Sidoarjo, Minggu (13/5) malam. Lokasi ledakan diketahui berada di Rusunawa Wonocolo Sepanjang Sidoarjo tepatnya di Blok B lantai 5.

Diduga ledakan itu bersumber dari bom rakitan yang dibuat oleh penghuni rusun. Tiga penghuni rumah tergeletak bersimbah darah yakni suami-istri dan seorang anaknya. Rumah keluarga tersebut rusak dan sejumlah warga di sekitar ledakan sempat dievakuasi.

Kita menghargai aparat anti-teror yang Densus 88 Polri yang sudah bekerja keras memburu pelaku teror di negeri ini. Sebelum peristiwa memilukan di Surabaya, Densus 88 Antiteror Polri menangkap dua terduga teroris berinisial G di Sukabumi dan M di Cikarang, Minggu (14/5).
Penangkapan itu sebagai rangkaian dari penyergapan empat terduga teroris yang ditembak mati di Terminal Pasir Hayam Kecamatan Cilaku, Cianjur, Jawa Barat.

Setelah menembak mati para terduga teroris di Cianjur, petugas melakukan pengejaran lanjutan dan menangkap target atas nama G dan M. Ini, sebuah prestasi bagi aparat Densus 88 pascakerusuhan Markas Komando Brimob Kelapa Dua, Depok, yang menewaskan lima anggota polisi.

Baik empat terduga teroris yang tewas ditembak maupun dua orang yang ditangkap, belakangan diketahui merupakan bagian dari Jamaah Ansharut Daulah.

Bisa jadi serangan bom di tiga gereja di Surabaya, yang dilakukan satu keluarga itu masih punya keterkaitan. Sebab, berdasarkan catatan polisi, Dipta Novianto selaku kepala keluarga adalah Ketua Jemaah Ansharut Daulah (JAD) Jawa Timur dan pernah pergi ke Suriah.

Kita sepakat dengan Presiden Joko Widodo, mengutuk aksi teror yang terjadi di Tanah Air ini. Namun, kita juga menuntut pihak intelijen kita tampaknya perlu lebih sigap agar tidak kecolongan lagi.

Yang tak kalah pentingnya, semua elemen masyarakat jangan menutup mata dan telinga jika mengetahui ada gerakan mencurigakan di sekitarnya. Kepedulian kita paling tidak dapat menjadi andil untuk menghentikan tindakan sadis dan biadab dari oknum-oknum yang ingin mengacaukan negeri ini. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help