B Focus Banua Anam

Dari 13 Penjagal di HSU Hanya 6 Orang yang Menggunakan RPH, Sisanya Beralasan Ini

Berdasar data didapat, di Kabupaten HSU saat ini terdapat 13 penjagal. Namun baru enam orang yang mau menggunakan RPH

Dari 13 Penjagal di HSU Hanya 6 Orang yang Menggunakan RPH, Sisanya Beralasan Ini
BPost Cetak
b focus

BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Berdasar data didapat, di Kabupaten HSU saat ini terdapat 13 penjagal.

Namun baru enam orang yang mau menggunakan RPH.

Itu pun secara bergantian.

Ada beberapa alasan dari para penjagal.

Yang utama karena letaknya cukup jauh, sehingga membutuhkan banyak waktu.

Baca: Awal Puasa Kamis 17 Mei, Inilah 16 Amalan Sunnah Puasa Ramadhan 2018

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Pertanian HSU, I Gusti Putu Susila, mengatakan, RPH dibangun agar para penjagal bisa mendapatkan fasilitas yang lebih baik untuk proses penyembelihan hewan.

Juga agar limbah dari pemotongan hewan tidak mencemari lingkungan.
Di luar itu, Pemkab HSU berharap bisa mendapatkan penambahan retribusi.

Baca: Terduga Teroris Acungkan Samurai Serang Mapolda Riau, Jurnalis TV One Ditabrak

Putu mengakui, untuk bisa mengajak seluruh penjagal memanfaatkan RPH, memang perlu pendekatan lebih jauh, sehingga mereka yakin bahwa RPH yang dibangun pemerintah untuk kebaikan para penjagal.

Putu menyebut, selama ini beberapa penjagal masih memilih memotong hewan di tempat pribadi, karena dekat, menghemat waktu tenaga dan biaya.

"Mereka yang menggunakan RPH juga memiliki orang kepercayaan sendiri untuk menyembelih dan membersihkan daging, sehingga pemerintah daerah tidak menyiapkan tenaga penjagal lagi," jelas Putu.

Baca: UPDATE Serangan Bom Mobil di Polda Riau: Tiga Teroris Ditembak, 1 Polisi Dibacok, 2 Jurnalis Terluka

Pihak dinas terkait hanya menyediakan tenaga untuk menjaga keamanan RPH, sedangkan aktivitas pemotongan hewan dilakukan oleh penjagal dan kelompok masing masing.

Lebih jauh Putu menuturkan, peraturan daerah yang mengatur masalah retribusi RPH sejatinya telah ada.

Namun karena pemanfaatannya belum maksimal, maka retribusi masih belum diberlakukan.

"Nanti akan kami berlakukan saat seluruh penjagal sudah memotong hewan di RPH. Secara aturan retribusi untuk tiap satu ekor hewan sebesar Rp 15.000," sebut dia.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved