Opini Publik

Melawan Terorisme dengan Buku (Refleksi Hari Buku Nasional 17 Mei 2018)

TINDAKAN terorisme, anarkisitas publik, dan lain sejenisnya merupakan wajah kelam kehidupan berbangsa

Melawan Terorisme dengan Buku (Refleksi Hari Buku Nasional 17 Mei 2018)
net
Ilustrasi 

OLEH: MOH YAMIN
Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Penulis Buku-buku Pendidikan

TINDAKAN terorisme, anarkisitas publik, dan lain sejenisnya merupakan wajah kelam kehidupan berbangsa dan ini layak disebut sebagai hilangnya keadaban publik. Mereka yang tiap saat terjebak dalam suasana saling membunuh atau melakukan bunuh diri atas nama kepentingan kebiadaban publik sebetulnya menjadi wajah buruk tentang mental manusia yang sangat kejam dan sadis.

Mengutip pendapat Frithjof Schuon (1901-1998), manusia sudah kehilangan nalar sosial profetik. Berkehidupan itu sesungguhnya bernilai tinggi ketika saling menguatkan, memberikan azas kebaikan bagi semua dan sesama.
Menjalani kehidupan adalah untuk berbagi kebaikan dan kebajikan. Bukan sebaliknya, justru menebar ketakutan, kegelisahan publik, dan lain sejenisnya. Mereka yang telah dibangun dengan berpikir buruk dan destruktif sesungguhnya telah kehilangan kemawasan diri serta kesadaran diri untuk membaca kehidupan yang pluralitas, dimana keberagaman adalah hal niscaya.

Tiap keberagaman tidak bisa dijawab dengan keseragaman. Mereka yang masih hidup di alam kegelapan aksi bunuh diri dan lain sejenisnya mempertahankan sikap sedemikian dapat disebut sebagai kelompok yang tidak mau dan tidak pernah belajar untuk hidup damai dengan orang lain.

Membaca untuk mengenal dan memahami yang lain tidak lagi menjadi panutan dan pedoman. Membaca untuk menjadi orang yang bijaksana dan arif tidak dilakoni dengan sedemikian rupa. Umumya, mereka yang berpikir benar-salah, hitam-putih, masuk sorga-neraka, dan begitu seterusnya adalah refleksi dari kebiasaan membaca buku-buku indoktrinatif yang kemudian membutakan diri terhadap realitas bahwa melebur dengan kehidupan realitas harus mampu membangun toleransi antarsesama secara utuh.

Kita tidak bisa memaksakan diri dan merasa diri sebagai yang paling benar dan paling suci. Akibat membaca buku-buku yang beraliran keras, ekstremis, dan indoktrinatif, maka di sinilah konflik keberkehidupan mulai muncul dan menjadi benih masalah laten yang tiap saat dapat merusak dan menghancurkan kohesitas sosial.

Buku yang didesain indokrinatif akan melahirkan cara berpikir para pembacanya dengan berpikir indoktrinatif. Ini adalah realitas yang selama ini nyata di hadapan kita semua. Mereka yang menjadi pelaku bom bunuh diri atau teroris lahir dan dilahirkan dari aktivitas membaca buku-buku yang mengajak perang, mengangkat senjata kepada siapapun dan pihak manapun yang tidak sejalan dan sevisi dengan dirinya.

Mereka yang menjadi perusak toleransi dan melakukan tindakan-tindakan intoleransi sebenarnya bermunculan karena digembleng dari aktivitas membaca buku-buku yang sesat berpikir. Khazanah berpikir mereka keluar dari cara pandang pluralis, menafikan pluralitas, menganggap kelompok lain yang tidak sama sebagai golongan yang harus dihancurkan, dibinasakan, dan dibumihanguskan.

Menekan Terorisme
Kondisi ironis semacam ini sangat jelas menjadi acaman bagi pembangunan bangsa yang berperadaban tinggi. Visi pembangunan manusia yang beradab dan bangsa beradab menjadi terancam.

Padahal bangsa dengan peradaban tingginya selalu mengajak seluruh elemen bangsanya agar menjadi pribadi-pribadi yang hidup damai, menguatkan misi perdamaian di ruang dan aras pluralitas.

Kita semua yang merasa sebagai bangsa yang masih memiliki komitmen kebangsaan kemudian perlu bergerak untuk mengampanyekan urgensi literasi buku-buku toleransi, yang mengajarkan kebaikan dan kebajikan.

Atmosfir membaca buku-buku untuk mendidik bangsa dan warga agar menjadi manusia-manusia yang berpandangan konstruktif perlu dihidupan secara intensif. Salah satu bentuknya adalah membaca karya-karya besar berbentuk buku sebagai pusat peradaban bangsa untuk melahirkan cara berpikir yang baik dan bijakmenjadi mendesak untuk dilaksanakan. Kampanye membaca buku yang mengajarkan kebaikan, kebajikan, amal baik serta amal sholeh terhadap sesama perlu diintensifkan.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help