Berita Hulu Sungai Tengah

Warga Tapuk Lebih Semangat Bikin Arang Halaban Ketimbang Menanam Karet

Warga Desa Tapuk, Kecamatan Limpasu, Hulu Sungai Tengah lebih semangat memproduki harang halaban,

Warga Tapuk Lebih Semangat Bikin Arang Halaban Ketimbang Menanam Karet
Banjarmasinpost.co.id/Hanani
Kayu halaban, bahan membuat arang halaban 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Warga Desa Tapuk, Kecamatan Limpasu, Hulu Sungai Tengah lebih semangat memproduki harang halaban, ketimbang menanam karet sebagai investasi untuk sumber pendapatan keluarga.

Masalahnya, sudah bertahun-tahun, harga karet tak juga membaik, hanya di kisaran Rp 5000 sampai 6500 per kilogram.

Sedangkan arang halaban, meskipun proses produksinya memerlukan waktu sekitar 15 hari, namun cukup membantu perekonomian warga bangkit.

Amat, warga Tapuk, yang juga aparat desa setempat mengatakan, sejak harga karet di bawah Rp 10 ribu perkilogram, hampir tak ada lagi yang menanam karet. Padahal dulu karet merupakan salah satu komoditas unggulan di HST.

Baca: 3 Link Live Streaming Trans7 MotoGP Le Mans Prancis - Siaran Langsung Trans 7 Mulai 18.00 WIB

“Masih ada yang menanam karet unggul, tapi tak seramai waktu harganya tinggi. Sekarang yang ramai malah banyak yang mau menjual kebun karetnya, karena dinilai tak menjanjikan kesejahteraan lagi,”kata Amat kepada banjarmasinpost.co.id, Minggu (20/5/2018).

Sebaliknya, saat ini warga yang menggeluti usaha arang halaban bertambah. Apalagi, saat cuaca panas. Proses pebuatan arang halaban lebih maksimal.

Dijelaskan, para perajin arang halaban rata-rata memproduksi per 15 hari. Mulai proses pembakaran, hingga proses pendinginan sampai bisa dikemas dalam karung memerlukan waktu setengah bulan.

Baca: LIVE STREAMING Persela vs Persija Liga 1 2018 Malam Ini - Link Live Streaming Indosiar Vidio.com

Tiap semingu sekali, di desa itupun ramai aktifitas bongkar muat kayu, bahan membuat arang. Syaripuddin (50) salah satu perajin arang menuturkan, satu minggu dia dipasok empat truk kayu halaban dari Kabupaten Tabalong dan Balangan.

“Dari Barabai ada juga yang memasok, namun jika hanya mengandalkan dari Barabai tak mencukupi,”ungkapnya.

Syaripudin adalah salah satu perajin, yang mengelola hasil produk dari perajin lainnya (pengumpul) selain memproduksi sendiri. Tiap minggu, dia membeli empat truk kayu halaban dari pemasok di Tabalong.

Halaman
12
Penulis: Hanani
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved