Jendela

Puasa Ponsel

Komputer membuat kita sibuk karena ia membantu pekerjaan kita dan melaluinya kita dapat terhubung dengan internet di dunia maya.

Puasa Ponsel
Mujiburrahman

Oleh: Akademisi UIN Banjarmasin, Mujiburrahman

Pada 1978, para ahli komputer di Massachusetts Institute of Technology (MIT) berdiskusi mengenai masa depan komputer pribadi yang baru saja diluncurkan. Mereka khawatir, benda itu tidak akan ‘sibuk’ di tangan orang awam. Ternyata, setelah beberapa tahun, manusia tak perlu membuat komputer sibuk. Justru komputer yang membuat manusia sibuk!

Cerita di atas ditulis Sherry Turkle dalam Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (2011: 279). Komputer pribadi terus berkembang hingga dalam bentuk kecil yang disebut laptop yang mudah dibawa kemana-mana (portable). Benda ini hampir selalu menemani dan membuat mahasiswa, akademisi, sastrawan, wartawan, arsitek dan kaum profesional lainnya sibuk.

Komputer membuat kita sibuk karena ia membantu pekerjaan kita dan melaluinya kita dapat terhubung dengan internet di dunia maya. Namun, sejak 2007 silam, kita dibuat lebih sibuk lagi oleh benda baru yang disebut ponsel pintar. Benda ini, selain berfungsi sebagai telepon, juga menghubungkan kita ke internet. Berbeda dengan laptop, hampir semua lapisan masyarakat memakai ponsel pintar.

Yang sering membuat kita sibuk dari ponsel pintar adalah media sosial. Ini ‘binatang’ baru pula. Seperti ditulis Daniel Dhakidae di Prisma (2015), media sosial itu “tidak diterbitkan seperti surat kabar, tidak disiarkan seperti radio dan televisi, akan tetapi di-post-kan (posting), dipamerkan (display), diumumkan dalam ruang internet.” Media baru ini melahirkan dampak-dampak positif dan negatif.

Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara, dalam artikelnya di Kompas berjudul “‘Social Wellness’ di Media Sosial” (18 Mei 2018), menyebutkan, pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 130 juta. Selain itu, menurut Thomas Hidya Tjaya dalam artikelnya “Facebook dan Hasrat Kita” di Kompas (26 April 2018) penggunaan media sosial di Indonesia mencapai tiga jam 23 menit per hari.

Tak dapat disangkal, banyak kebaikan yang bisa diperoleh melalui media sosial. Misalnya, silaturrahmi dengan orang-orang yang jauh dan berkenalan dengan orang-orang baru. Menurut Jonah Lehrer (2011), media sosial dapat menghibur hati dan membantu menaikkan rasa harga diri orang. Namun, sebaliknya, media sosial juga menjadi ladang penebaran ujaran kebencian, berita bohong dan manipulasi politik.

Bagaimanakah memaksimalkan manfaat media sosial dan mencegah mudaratnya? Jawabnya, semua tergantung kita. Kita harus bisa mengendalikan benda yang kita ciptakan sendiri. Jangan sampai, senjata makan tuan. Gara-gara ponsel, bukannya persahabatan, malah permusuhan yang kita ciptakan. Gara-gara ponsel, percakapan intim dengan keluarga tak ada lagi. Yang jauh jadi dekat, yang dekat jadi jauh.

Dapatkah kita berpuasa dari ponsel? Puasa dalam bahasa Arab adalah shawm yang artinya menahan diri. Alquran mencatat, Maryam pernah puasa bicara, ketika orang-orang mempersoalkan status anaknya (QS 19:26). Puasa hanyalah jeda, bukan penghentian total. Ia adalah latihan pengendalian diri. Diri yang dimaksud di sini adalah keinginan rendah dan sifat buruk manusia yang disebut nafsu.

Akal atau ruh harus mengendalikan nafsu, bukan sebaliknya. Dalam Alqur’an, nafsu yang tak terkendali disebut ammarah (mendorong kepada kejahatan). Jika nafsu itu kadang bisa dikendalikan, kadang tidak, dia disebut lawwâmah (yang mencela dirinya). Jika sudah terkendali, nafsu itu disebut muthmainnah (yang damai). Nafsu yang terakhir ini kelak akan kembali kepada Allah dalam pelukan keridaan-Nya.

Alhasil, melalui puasa, kita dapat melatih diri untuk mengendalikan keinginan rendah dan sifat buruk kita, yang mendesak untuk disalurkan melalui benda ajaib bernama ponsel pintar itu. Kegagalan atau keberhasilan pengendalian diri ini akan menentukan apakah kita tergolong manusia yang bernafsu ammârah, lawâmah atau muthmainnah. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help