Advertorial

PT MSAM Rekrut Tenaga Kerja Lokal dan Dukung Pembangunan

Tidak hanya merekrut tenaga kerja lokal, keberadaan perkebunan sawit PT MSAM di Pulau Laut Tengah, Kotabaru, juga turut andil dalam pembangunan

PT MSAM Rekrut Tenaga Kerja Lokal dan Dukung Pembangunan
PT MSAM
Direktur Utama PT Eshan Agro Sentosa Group, induk enam perusahaan di antaranya PT Multi Sarana Agro Mandiri (MSAM) H Kusdi Sastro Kidjan (kiri), berkunjung ke pesantren di Desa Salino, Kecamatan Pulaulaut Tengah. Kunjungan sekaligus rencana akan membangun gedung pesantren 

Sejak masuknya MSAM ke Pulau Laut Tengah,disebutkan ekonomi warga sekitar pun meningkat. Indikasinya, yakni dengan adanya dealer motor dan semakin maraknya pasar malam. "Kami tidak usah bicara banyak. Lihat saja ke lapangan. Di sana sudah ada dealer motor. Tanya saja, yang beli atau kredit motor itu siapa? Mereka warga di sana yang sekarang kerja di MSAM," tutur Kusdi.

Perkebunan sawit milik PT MSAM.
Perkebunan sawit milik PT MSAM. (PT MSAM)

Pasar malam di desa tumbuh menggeliat,tentu ujar Kusdi seiring meningkatnya perputaran uang di sana. "Perlu disadari juga, sawit itu usaha terus-menerus. Apa coba dalam sehari yang tidak pakai minyak? Sabun juga bahan bakunya dari sawit, sampo, banyak turunannya.”

Kepala Desa Sungai Pasir, Kaspul Anwar meyakinkan, sejak MSAM masuk, warganya yang dulu kerja serabutan tidak punya penghasilan tetap, sekarang sudah berani kredit kendaraan. "Cek saja di dealer atau bank. Makanya kami dukung MSAM. Saya di sini bicara fakta lapangan saja," akunya.

Ia membantah jika ada tudingan perusahaan telah menggusur lahan warga. "Tidak ada perusahaan menggusur," ujarnya. Dulu, katanya, sempat disuarakan bahwa lahan transmigrasi di Sembega digusur. Kenyataannya kata Kaspul tidak ada lahan transmigrasi di Sembega (kawasan transmigran di Desa Sungai Pasir) yang digusur. "Logikanya juga tidak mungkin. Lahan transmigrasi itu sertifikat negara untuk warga," ujarnya.

Dampak positif keberadaan MSAM ini juga disampaikan Pimpinan Tahfiz Quran Ahsanu Amala As'adiyah Desa Selino, Amrullah. Di depan publik ia pernah mengatakan, MSAM telah merekrut warga sekitar untuk bekerja, serta pemanfaatan lahan yang selama ini tidak produktif.

Bibit sawit di lahan PT MSAM.
Bibit sawit di lahan PT MSAM. (PT MSAM)

Beberapa isu yang ditudingkan kepada MSAM, disebutkan Amrullah, juga tidak terbukti. Seperti tudingan penggusuran makam. Setelah diperiksa, kata dia, ternyata makamnya masih ada, tidak tampak ada aktivitas perusahaan di sekitar makam.

Menurut Amrullah, warga lebih mendukung perkebunan kelapa sawit ketimbang tambang batubara di Pulau Laut. Tambang batubara,sebutnya, yang bekerja hanya mereka yang punya skill. Dan juga tidak lama. “Usaha habis ketika batu habis. Sementara dampak tambang terhadap sosial budaya juga tinggi, seperti munculnya prostitusi jalanan dan lainnya,” ujarnya. Sebab itu, kata Amrullah, warga akan terus mendukung MSAM selama perusahaan dapat memberikan yang terbaik buat masyarakat.

Sementara Guru SD di Desa Selino, Saifullah juga membenarkan, sejak MSAM masuk dan warga bekerja di sana, pasar malam semakin ramai. "Pasar malam memang sudah ada sejak dulu, namun baru ramai pas MSAM masuk," ucapnya. Tentu, dengan bergairahnya pasar malam dan perdagangan setempat, kehidupan ekonomi masyarakat pun terus berputar dan hidup. (aol)

Editor: Royan Naimi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help