Ramadhan Zaman Now

Tantangan Berpuasa di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman Bagi Pelajar Indonesia : Cuacanya Sangat Panas

Suhu yang berkisar antara 30 derajat ke atas itu pun harus ditaklukkan setiap harinya sepanjang Ramadhan berguli di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman

Tantangan Berpuasa di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman Bagi Pelajar Indonesia : Cuacanya Sangat Panas
kolase/istimewa
Suasana di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman. Tampak Masjid Umar Al-Muhdhor pada siang dan malam hari dipenuhi jemaah. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Menjadi anak perantauan, hal pertama yang terlintas dalam pikiran adalah kata jauh.

Jauh dari tempat kelahiran, jauh dari kampung halaman dan jauh dari yang namanya keluarga. Namun, mereka tetap kuat menjalani kehidupan yang penuh duri dan kepedihan di negeri orang.

Meski begitu, anak perantauan tetaplah manusia biasa, bukan batu karang yang tak goyah diterpa ombak-ombak, pasti merasa kehilangan akan ketidakberadaan itu semua.

Tak terkecuali ketika memasuki bulan suci Ramadhan seperti ini. Rasa bahagia dengan kembalinya bulan penuh berkah pun terselip perasaan sedih tak bersama orang yang dicinta.

Larut dalam kesedihan bukanlah solusi, dan memang itulah salah satu resiko dari pilihan menjadi pengembara di tanah orang, meninggalkan kampung halaman.

Baca: Jadwal Imsak & Buka Puasa Ramadhan Hari Ini Selasa, 22 Mei 2018 Jakarta, Bandung, Surabaya Lainnya

Nah, saya yang notabene adalah bagian dari anak perantauan sedikit membagikan apa yang saya rasakan selama berdomisili di kota Tarim, Provinsi Hadhramaut, Republik Yamani, terutama tentang ber-Ramadhan di kota ini.

Tarim merupakan kota kecil di provinsi Hadhramaut, Yaman.

Meskipun kecil nan sederhana, tempat ini sukses menjadi salah satu kota tujuan untuk melanjutkan studi bagi berbagai kalangan mancanegara.

Bahkan tak sedikit yang benar-benar menetap dan berkeluarga serta menjadi salah satu warga disini.

Tak berbeda jauh dari daerah semenanjung Arab lainnya, panas merupakan cobaan tersendiri.

Suhu yang berkisar antara 30 derajat ke atas itu pun harus ditaklukkan setiap harinya sepanjang Ramadhan bergulir.

Kami pun harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menyelesaikan ibadah puasa setiap harinya. Tak ayal, kegiatan pagi dan siang kota ini serasa mati dan akan kembali hidup ketika tibanya waktu Ashar. (*)

Penulis : Alfath Ardiansyah (mahasiswa asal Tanjung, Tabalong Kalsel yang melanjutkan pendidikan di Universitas Al Ahgaff, Kota Tarim, Hadhramaut, Yaman.

Editor: Royan Naimi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved