Ramadhan Zaman Now

Uniknya Sholat Tarawih di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman : Masjid Bergilir Gelar Sampai Jelang Subuh

Uniknya Ibadah Sholat Tarawih di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman : Masjid Bergilir Menggelar Sampai Jelang Subuh

Uniknya Sholat Tarawih di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman : Masjid Bergilir Gelar Sampai Jelang Subuh
kolase/istimewa
Masjid Umar Al Mudhor di Kota Tarim, Provinsi Hadramaut, Republik Yaman 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Menemukan adat yang berbeda dengan kampung halaman menjadi obat penawar tersendiri bagi perantauan, termausk pelajar dan mahasiswai di Kota Tarim, Provinsi Hadramaut, Repoublik Yaman.

Salah satunya, Salat Tarawih yang tersedia sepanjang malam, dari tibanya waktu Sholat Isya sampai menjelang Sahur selalu ada saja masjid yang mendirikan Salat Tarawih.

Jadwal masjid-masjid di sini seakan bergilir, yang mana memudahkan bagi setiap warga termasuk para anak perantauan untuk memilih waktu yang pas.

Kebanyakan masjid memang melangsungkan di awal malam, seperti masjid yang tak jauh jaraknya dari tempat tinggal kami para mahasiswa.

Masjid As-Sahl misalnya, yang memulainya pada pukul 20.30, Masjid Ubadah pada pukul 20.45, Masjid Bir tepat jam 21.00. Begitu banyak pilihan untuk mereka yang ingin memulainya di awal waktu termasuk Musala Ahlu Kisa pada pukul 20.45 berlokasi tepat di dalam lembaga Darul Musthofa (DM).

Baca: Tantangan Berpuasa di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman Bagi Pelajar Indonesia : Cuacanya Sangat Panas

Baca: Jadwal Imsak & Buka Puasa Ramadhan Hari Ini Selasa, 22 Mei 2018 Jakarta, Bandung, Surabaya Lainnya

Di pertengahan malam, tepatnya pukul 23.00, giliran Masjid Ba 'Alawi, masjid tua nan bersejarah yang melangsungkan Shalat Tarawih.

Masjid ini berjuluk “masjidil qoum” yang berarti induk dari segala masjid. Konon salah satu sebab julukan tersebut karena warga Tarim begitu mengistimewakan masjid ini, bahkan dalam penaruhan waktu shalat Tarawih saja, tak ada masjid yang menyamai jadwal masjid Ba’alwi ini.

Masjid favorit lain yaitu masjid Umar Al-Muhdhar, masjid dengan menara tinggi yang terbuat dari tanah liat ini melangsungkan salat Tarawih tepat pukul 00.30 malam.

Meski sudah larut malam, sama sekali tidak menyurutkan semangat warga Tarim tuk melaksanakan salat Tarawih, bisa terlihat dari panjangnya shaf yang diisi para jamaah, bahkan tak sedikit anak-anak kecil juga terlihat di sela-sela shaf tersebut.

Setelah itu, sekitar pukul 1.15 giliran masjid Jami’ Tarim yang menjadi tujuan. Selain masjid yang bersejarah, yang menjadi imam salat Tarawih di masjid ini adalah Habib Ali Masyhur bin Hafidz (saudara kandung Al Habib Umar bin Hafidz).

Beliau yang walaupun sudah sangat berumur tetap semangat mengimami jamaah sehingga membuat kami yang notabennya berumur setengah abad lebih muda dari beliau merasa sangat malu dengan semangat yang masih setengah-setengah.

Itulah secuil kisah yang bisa saya sharing tentang Ramadhan dan kota Tarim, dan memang membahas keduanya tak mengenal kata habis, ada saja hal-hal baru nan unik yang perlu dibahas, terlebih lagi jika itu dirasakan anak perantauan yang notabennya haus akan sesuatu yang baru nun berbeda.

Itu akan terus tersimpan di memori ingatan mereka terutama ketika sudah selesai dari masa perantauan. Tertarik untuk “melancongkan” kehidupan anda dan menikmati sensasi “penderitaan” sebagai anak perantauan. (*)

Alfath Ardiansyah
Alfath Ardiansyah (dok pribadi)

Penulis: Alfath Ardiansyah merupakan alumni Pondok Pesantren Raudhatut Tholibin Amuntai dan mantan Ketua Asosiasi Pelajar Kalsel di Universitas Al Ahgaff)

Editor: Royan Naimi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help