Home »

Kolom

» Tajuk

Tajuk

Cuma Sampai Pengedar

Kemudian, dilihat dari sisi jumlah, barang bukti 18 kilogram sabu ini adalah rekor pengungkapan kasus narkoba di Kalsel

Cuma Sampai Pengedar
Banjarmasinpost.co.id/Irfani Rahman
Kapolda Kalsel saat perlihatkan barang bukti 18 kg sabu 

POLDA Kalsel mengukir prestasi mentereng, yakni mengungkap upaya penyelundupan sabu 18 kilogram melalui Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin di Banjarbaru, Minggu (20/5). Jumlah 18 kilogram sabu tentu bukan sedikit. Jika satu gram sabu senilai Rp 2 juta, maka 18 kilogram sabu hampir Rp 50 miliar!

Kemudian, dilihat dari sisi jumlah, barang bukti 18 kilogram sabu ini adalah rekor pengungkapan kasus narkoba di Kalsel. Sebelumnya, tidak pernah ada tangkapan sabu baik kepolisian maupun Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalsel dengan barang bukti sebanyak itu.

Namun, sayangnya, di balik prestasi itu, ada sedikit kekurangan. Dua orang yang ditangkap hanya berkelas pengedar. Dibanding barang bukti sebesar 18 kilogram, dua pengedar ibarat hanya seujung kuku saja. Jumlah barang bukti sebesar itu tentu bukan gawe satu dua orang atau pengedar saja. Nilai uang, banyaknya barang bukti dan kemungkinan peredarannya di wilayah Kalsel, menyiratkan digerakkan oleh organisasi jaringan peredaran narkoba yang besar.

konferensai pers pengungkapan sabu 18 kg, Senin (21/5/2018).
konferensai pers pengungkapan sabu 18 kg, Senin (21/5/2018). (facebook BPost Online)

Selain itu, menjadi keniscayaan bahwa Kalimantan Selatan adalah pasar narkoba yang empuk dan menggiurkan. Kalau hanya kelas teri, tentu kegagalan demi kegagalan upaya penyelundupan narkoba ini sudah bikin bangkrut. Kalau bukan bandar besar bermodal kuat yang bermain, tentu tidak bakal mampu secara simulatan bermain di bisnis narkoba. Harusnya, ada upaya memotong jalur distribusi narkoba ke Kalsel, bukan cuma sampai ke tingkat pengedar.

Alangkah muskil jika dua orang pengedar bekerja sendiri, membawa sabu dengan nilai yang demikian besar tanpa ada dukungan dari orang atau kelompok narkoba yang besar. Ranah ini memang menjadi abu-abu dan tidak transparan karena menyangkut wilayah penanganan kepolisian dan hak prerogatif ada pada korps berbaju cokelat-cokelat ini.

Namun, khalayak juga bisa memahami, secara logika, ada yang masih kurang, masih perlu ditingkatkan lagi oleh aparat hukum dalam memberantas kejahatan narkoba. Paling tidak ada upaya yang terlihat bahwa kasus 18 kilogram ini bukan kasus main-main. Ini menyangkut perputaran uang yang besar. Harus ada yang dibuat bertanggung jawab secara hukum, bukan sekadar dua orang pengedar.

Melihat eskalasi kasus narkoba khususnya sabu, Kalsel bisa dibilang darurat narkoba jenis ini. Semua aparat dan aparatur terkait harus merapatkan barisan, apakah itu kepolisian, BNNP dan pemerintah daerah. Bukan tidak mungkin, 18 kilogram sabu ini fenomena gunung es di laut, hanya terlihat puncaknya yang kecil di permukaan namun sangat besar dan tidak terdeteksi di bawah permukaannya.

Mulai banyak keterlibatan orang lokal sebagai pengedar atau kurir lalu rela membawa, menyelundupkan narkoba seakan jadi martir dalam pertempuran (risiko tertangkap pula) juga sebuah fenomena yang menakutkan. Bisa jadi ke depan makin banyak yang mau melacurkan dirinya menjadi pembawa narkoba demi janji untung yang menggiurkan. Harus segera diputus polanya dengan menangkap sang bandar. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help