Berita HSU

Berikan Bibit Tanaman Kepada Keluarga Stunting, Begini Cara Pemkab Tanggulangi Stunting di HSU

Salah satu penyebab bayi stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama.

Berikan Bibit Tanaman Kepada Keluarga Stunting, Begini Cara Pemkab Tanggulangi Stunting di HSU
banjarmasinpost.co.id/nurholis huda
Ilustrasi - Guna pencegahan dan penanggulangan balita pendek atau stunting dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dalam rangka desiminasi penagguangan masalah gizi Dinkes Kalsel, mengumpulkan Pegawai Tidak Tetap Ahli Gizi se Kalsel dan perwakilan dinas terkait di Hotel Aria Barito Banjarmasin, selasa (20/3/2018) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI – Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) terus berkomitmen untuk mengentaskan stunting, Salah satu penyebab bayi stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama.

Akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.

Untuk menghindari dan memperbaiki gizi anak yang telah terlanjur terkena stunting Pemerintah Daerah melalui pihak desa memiliki program penambahan gizi anak dengan memberikan bibit tanaman kepada keluarga yang memiliki anak positif stunting.

Seperti yang dilakukan di Desa Jingah Bujur Kecamatan Haur Gading, saat ini pihak desa tengah melakukan penyemaian bibit sayuran dan buah buahan, yang nantinya saat sudah siap tanam akan diberikan kepada keluarga yang memiliki anak positif stunting.

Baca: Astaga! Ibu di Berau Kalitim Tega Siksa Anak Balitanya Karena ini, Begini Kondisi Memilukan Anaknya

Kepala Desa Jingah BUjur Khairullah mengatakan saat ini di Desa Jingah Bujur terdapat enam anak yang terkategori stunting. “Nantinya akan diberikan saat menghadiri posyandu, sebagian besar warga juga memiliki pekarangan sehingga bisa ditanam di pekarangan atau di kebun mereka, sekaligus akan diberikan pemberitahuan singkat mengenai cara penanaman,” ungkapnya.

Dengan pemberikan bibit tanaman ini diharapkan masyarakat bisa memanfaatkan bantuan tersebut dengan sebaiknya. Dengan memasukkan menu makanan sehat dalam setiap makanan anak anaknya. “Bibit sayuran seperti kacang panjang dan bayam sedangkan untuk buah buahan seperti papaya dan timun, jika warga sudah bisa menanam sendiri kedepan diharapkan mereka bisa langsung menyemai dan menanam sendiri langsung sehingga bantuan ini menjadi berkelanjutan agat gizi anak terus tercukupi,” ungkapnya.

Pengentasan stunting juga tengah diperjuangkan oleh Desa Simpang Empat Kecamatan Amuntai Selatan, salah satunya dengan meningkatkan kualitas Posyandu. Diantaranya posyandu yang dilaksanakan minggu kedua setiap bulan, warga yang sedang hamil dan memiliki balita diwajibkan hadir untuk melakukan pemeriksaan dengan menimbang dan mengukur tinggi badan. Selain itu Posyandu juga diisi dengan program BKB yang saat ini memiliki 58 anak usia dibaah lima tahun.

Baca: Link Live Streaming TVRI Perempat Final Thomas Cup 2018 Indonesia vs Malaysia Malam Ini

Program BKB inilah yang menjadi ujung tombak dalampengentasan stunting di Desa Simpang Empat, dengan memantau tumbuh kembang anak sehingga setiap anak tidak lepas dari perkembangan pertumbuhannya.

Kepala BKB Desa Simpang empat Rina mengatakan setiap anak dikelompokkan sesuai usia mulai dari 0 hingga lima tahun dimana tiap usia tahunnya dikelompokkan menjadi satu kelompok. “Jadi ada lima kelompok dan disetiap kelompok memiliki satu kader sehingga lebih focus dalam mengamati tumbuh kembang setiap anak,” ujarnya.

Setiap kegiatan posyandu diperiksa tumbuh kembang anak dan perkembangannya dimasukkan dalam buku konseling yang telah tersedia. Misalnya bayi yang berusia delapan tahun seharusnya sudah bisa duduk. Jika ada anak yang tumbuh kembangnya tidak sesuai dengan usia maka akan diberikan konseing dan melakukan beberapa pelatihan rutin untuk memancing motorik anak.

“Konseling dan pelatihan dilakukan selama dua bulan, jika dua bulan tidak ada perkembangan maka dirujuk ke bidan atau Puskesmas, biasanya kasusnya adalah adanya permasalahan gizi anak dan dan kurangnya stimulasi,” ungkapnya.

Baca: Jadwal Buka Puasa Hari ke 8 Ramadhan, Kamis 24 Mei 2018, di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Lainnya

Anak yang terbukti kekurangan gizi akan diberikan makanan tambahan, sebagian anak yang kekurangan gizi memang berasal dari keluarga kurang mampu namun ada juga karena kurangnya pengetahuan dari orangtua. Tidak memberikan makanan sehat kepada anak dengan alasan anak yang tidak suka, padahal jika anak terbiasa diberi makanan hanya disenangi tanpa memperhatikan kandungan gizi akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang dan kecerdasannya.

Untuk mengatasi anak yang sulit makan makanan sehat seperti sayur dan ikan BKB juga memiliki kegiatan demo masak baik makanan sehat, cemilan dan makanan olahan berbahan dasar ikan. Dengan pengolahan makanan yang berbagai macam dapat meningkatkan nafsu makan anak. 

“Pada tahun 2017 jumlah stunting di Desa Simpang Empat ada 21 anak dan saat ini menjadi 12 anak, dan kami masih akan terus melakukan perbaikan gizzi dan tumbuh kembang anak agar bisa terbebas dari stunting,” ungkapnya. (banjarmasinpost.co.id/nia)

Penulis: Reni Kurnia Wati
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help