Jendela

Materialisme Serakah

Kesadarannya begitu tinggi bahwa jangankan harta dan tahta, tubuh dan ruhnya sendiri bukanlah miliknya, tetapi milik Sang Pencipta.

Materialisme Serakah
Mujiburrahman

Singkat kata, materialisme yang sering dikutuk dengan mulut itu justru diamalkan setiap hari. Kerja keras siang-malam, tujuannya tiada lain daripada menumpuk uang.

Orang-orang berebut proyek, melakukan pungutan liar dan habis-habisan mengejar jabatan, ujung-ujungnya duit belaka. Padahal, kadangkala orang seperti ini justru paling fasih mencela materialisme dan penampilannya sangat relijius.

Apa sesungguhnya materialisme itu? Jawaban para filosof terlalu rumit. Jawaban psikolog kiranya lebih praktis. Katanya, jika Anda menganggap memperoleh kekayaan sebagai kegiatan yang paling utama, dan bahwa kekayaan itu paling penting sebagai penentu kebahagiaan dan kesuksesan hidup, maka Anda adalah seorang materialis. Seorang materialis meletakkan nilai hidupnya pada apa yang dimilikinya.

Materialisme adalah pandangan hidup yang tidak kasat mata. Orang kaya belum tentu materialis, dan orang miskin belum tentu tidak materialis. Anggapan romantis bahwa orang desa yang miskin tidak materialis tidak selalu benar.

Orang miskin boleh jadi lebih materialis daripada orang kaya. Tak jarang orang dewasa yang serakah ternyata ketika kecil hidupnya melarat. Dia rupanya ingin ‘balas dendam’.

Karena itulah, kedudukan ruhani (maqâm) yang disebut zuhd dalam tasawuf, yang sering diartikan ‘tidak terpesona pada dunia’ juga bisa berarti ‘miskin sukarela.’ Orang miskin yang terpaksa miskin bukanlah zâhid (pelaksana zuhd).

Orang kaya yang memilih hidup seperti orang miskin adalah zâhid. Orang yang memiliki kemampuan untuk hidup mewah tetapi memilih hidup sederhana kiranya juga tergolong zâhid.

Sebaliknya, orang yang selalu merasa kekurangan adalah orang yang serakah. Orang yang serakah, meski punya banyak harta, pada hakikatnya sangat miskin.

Keserakahan akan mendorong orang untuk saling berebut dan bertengkar, bukan berbagi dan berdamai. Keserakahan membuat orang selalu melihat ke atas, sehingga dia mudah iri dan dengki, bukannya bersyukur atas segala nikmat yang diberi.

Alhasil, jika kita sering galau dan berkeluh kesah soal uang, jangan-jangan tanpa kita sadari, penyebab utamanya adalah materialisme yang serakah itu. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help